BANTUL – Gagasan operasi tangkap tangan (OTT) pembuang sampah sembarangan ternyata bukan isapan jempol. Tim gabungan yang dimotori Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul berhasil menjaring satu warga, Senin (19/3).

Persisnya saat tim gabungan menyanggongi titik pembuangan sampah ilegal di Dusun Manggisan, Baturetno, Banguntapan.

Kepala Bidang Persampahan, Bahan Berbahaya Beracun dan Pengembangan Kapasitas DLH Bantul Wahid mengungkapkan, tim gabungan tak memberikan tindakan represif kepada pembuang sampah yang diketahui masih tercatat sebagai siswi sekolah menengah pertama ini. Tim gabungan hanya meminta pembuang sampah sembarangan ini menandatangani surat pernyataan. “Kami terapkan pendekatan persuasif dulu,” jelas Wahid di kantornya.

Tim gabungan yang terlibat di antaranya Satpol PP, Dinas Perhubungan, Polsek, dan Koramil Banguntapan. Sejak pukul 05.30 tim gabungan menyanggongi beberapa titik yang ditengarai dijadikan lokasi pembuangan sampah. Ini berlangsung hingga pukul 06.00. Ke depan waktu OTT diperpanjang hingga pukul 08.00.

Saat terjaring OTT, pembuang sampah sembarangan ini tak dapat mengelak. Kepada tim gabungan, Wahid menceritakan, remaja putri ini berkilah tak memiliki pilihan. Halaman rumahnya terbatas. Sementara di sekitar rumahnya tak ada tempat pembuangan sampah sementara.

“Akhirnya (pembuang sampah sembarangan) kami antar ke tempat pembuangan sampah milik desa,” ucapnya.

Guna mengantisipasi hal serupa, DLH mengevakuasi tumpukan sampah di lokasi OTT ke tempat pembuangan sampah sementara Piyungan. DLH juga memasang papan larangan.

Kendati minim hasil, bekas pejabat di lingkungan Bappeda ini menegaskan, tim gabungan tetap bakal mengintensifkan OTT. Minimal sepekan sekali. Adapun sasarannya seluruh wilayah Bantul. “Semakin minim yang terjaring razia semakin baik,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Wahid membeberkan, OTT hanya salah satu strategi untuk menciptakan wilayah Bantul terbebas sampah. Ini untuk melengkapi strategi lain yang telah ditempuh. Yaitu, penyediaan sarana prasarana seperti depo atau tempat pembuangan sampah sementara.

” Bantul juga telah memiliki perdanya. Yaitu, Perda No. 15/2011 tentang Pengelolaan Sampah,” bebernya.

Direktur Lembaga Studi dan Tata Mandiri (Lestari) Agus Hartono mencatat ada beberapa hal yang diperlu dievaluasi untuk OTT ke depan. Yang paling mencolok adalah waktu. Idealnya, OTT digelar saat waktu buang sampah. Yaitu, mulai pukul 05.00 hingga pukul 08.00. Adapun OTT kemarin pagi hanya hingga pukul 06.00.

“Alasannya teman DLH, Satpol PP atau Dishub harus siap-siap berangkat kerja,” katanya.

Sebagai pekerja swasta, Agus tak begitu mengetahui seluk-beluk mekanisme kinerja aparatur sipil negara. Kendati begitu, Agus berpendapat aktivitas OTT sampah termasuk bagian kinerja ASN.

Catatan lain terkait penyediaan tempat pembuangan sampah sementara. Agus melihat di sekitar lokasi OTT terdapat depo sampah sementara. Masalahnya, lokasinya terlalu jauh bagi sebagian warga. (zam/ila/mg1)