Terik matahari tak menyurutkan beberapa wisatawan untuk tetap terjun di kubangan lumpur sawah Desa Wisata Candran di Dusun Mandingan, Kebonagung, Imogiri, Bantul. Desa wisata yang berdiri sejak 2008 ini menawarkan panorama pedesaan yang asri dengan Museum Tani Jawa sebagai ikonnya. “Museum Tani Jawa didirikan untuk mendukung Desa Wisata Candran,” ungkap Sekretaris Desa Wisata Candran Rahayu Liyantini saat ditemui Radar Jogja, Sabtu (18/3).

Museum Tani Jawa, menggunakan konsep yang berbeda dengan museum pada umumnya. Jika museum pada umumnya berisi barang-barang peninggalan masa lampau, Museum Tani Jawa justru berisi alat-alat pertanian tradisional warga yang sampai sekarang masih difungsikan. Istilahnya museum hidup.

“Harapannya, bisa mengedukasi pengunjung yang datang agar mengerti jerih payah para petani,” ungkap wanita yang akrab dipanggil Yayuk ini. Dengan demikian nantinya keteladanan petani bisa disampaikan ke pengunjung, sehingga wisatawan punya empati bahwa petani memiliki nilai-nilai kejujuran dan kerja keras.

Pencetus pertama desa wisata ini Kristya Bintara yang dulu berprofesi sebagai guru yang saat itu mencalonkan diri sebagai kepala desa. Kris yang kini menjabat Ketua Desa Wisata Candran juga pernah membangun desa wisata di Kebonagung yang sampai sekarang masih berjalan. Setelah pensiun, Kris menyarankan untuk mendirikan desa wisata di Candran. Alasannya, mayoritas masyarakat Candran merupakan petani. “Ketika sedang menunggu masa panen, petani sudah tidak ada kegiatan,” tutur Yayuk.

Untuk kesenian jathilan, memang asli Kebonagung. Tapi kalau tradisi Nini Thowong, dulunya menjadi kebiasaan masyarakat Candran saat bermain gejug lesung. Ini juga untuk menambah paket wisata dan menceritakan kembali Candran seperti apa di masa lampau. Diharapkan ini menambah kekayaan desa wisata ini.

Dalam 21 reservasi wisata yang ditawarkan Desa Wisata Candran, beberapa reservasi juga mendatangkan ahli dari padukuhan yang lain. Seperti membatik, pembuatan emping, dan tempe. “Kalau Candran sendiri ruang lingkupnya masih terlalu kecil, jadi belum maksimal,” katanya.

Reservasi wisata yang paling diminati wisatawan adalah reservasi pertanian. Beberapa pengalaman unik dirasakan oleh guide yang terdiri atas masyarakat Desa Candran. Misal ada beberapa wisatawan yang awalnya takut serta suka bertanya “ada binatang apa di lumpur”. Akan tetapi, setelah diajak terjun ke sawah, ternyata mereka sampai bermandi lumpur saking antusiasnya. Ada juga beberapa turis yang tidak mau sepatunya dilepas.

Dari tahun ke tahun, wisatawan yang datang ke Desa Candran cukup berimbang antara wisatawan asing dengan lokal. “Kebanyakan wisatawan lebih tertarik nuansa pedesaan yang notabene bukan sesuatu yang biasa menurut mereka,” ungkap Yayuk.

Adanya desa wisata ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Karena memiliki pemerataan penghasilan bagi masing-masing warga. Semakin banyak keikutsertaan masyarakat, semakin banyak pemasukan. “Harapannya masyarakat semakin kompak, tamunya semakin banyak,” tandasnya.

Apalagi dengan baru mulainya program pertanian berkelanjutan. Harapannya banyak instansi yang mau bekerja sama dengan Desa Candran. Dengan demikian pertumbuhan Candran menjadi destinasi wisata semakin diminati. (laz/mg1)