BANTUL – Bila ada pegawai puskesmas datang ke rumah tak perlu kaget apalagi khawatir. Yang perlu dilakukan justru harus kooperatif. Sebab, pegawai salah satu pusat pelayanan kesehatan ini akan melihat sekaligus mendata profil kesehatan keluarga. Data ini sebagai acuan agar berbagai persoalan kesehatan tertangani sejak dini.

Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Kesehatan Tradisional Dinas Kesehatan Bantul Dyah Pangesti Utami mengungkapkan, pendataan profil kesehatan keluarga ini merupakan pelayanan puskesmas terbaru. Pelayanan baru ini sebagai salah satu implementasi Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK).

“Konsepnya sekarang puskesmas yang datang door to door ke rumah warga memberikan pelayanan,” jelas Dyah di kantornya, Senin (19/3).

Dikatakan, PIS-PK di Kabupaten Bantul mulai diterapkan akhir 2017. Saat itu baru ada lima Puskesmas yang dijadikan locus PIS-PK. Yaitu, Puskesmas Sewon I, Kasihan I, Bambanglipuro, Sanden, dan Kretek. Kendati begitu, 27 Puskesmas se-Bantul saat ini telah menerapkannya.

Dyah memaparkan, salah satu program Nawacita Presiden Joko Widodo adalah PIS. Nah, PIS PK merupakan bentuk turunan dari penguatan pelayanan kesehatan.

“PIS sendiri ada penguatan layanan kesehatan, jaminan kesehatan nasional, dan paradigma sehat,” paparnya.

Terkait layanan langsung ke masyarakat, Dyah menekankan, Puskesmas se-Bantul sebenarnya telah menerapkannya sejak lama. Hanya, saat itu polanya kasuistis. Puskesmas baru turun lapangan bila ada temuan penyakit. Seperti demam berdarah dengue atau tuberculosis.
Dengan penerapan PIS-PK ini, Dyah menegaskan, pola pelayanan kesehatan Puskesmas tak lagi menunggu datangnya pasien. Melainkan langsung jemput bola. “Sekarang jangan hanya menunggu pasien sakit,” tandasnya.

Disebutkan, sasaran kepala keluarga (KK) se-Bantul yang harus didata sebanyak 330.889. Per 19 Maret yang telah didata sebanyak 18.546 KK. Dyah tak menampik capaian ini masih sedikit. Kendati begitu, persentasenya paling tinggi se-DIJ.

Apa saja yang didata? Dyah menyebut ada 12 indikator keluarga sehat yang didata. Di antaranya meliputi pemberian imunisasi dasar lengkap kepada bayi, ASI eksklusif selama enam bulan, hipertensi, hingga akses jamban sehat. Nah, hasil seluruh pendataan ini akan diinput ke aplikasi online milik Kementerian Kesehatan. Data ini sekaligus untuk mengetahui indeks keluarga sehat.
“Kalau 80 persen indikator terpenuhi berarti sehat,” katanya.

Menariknya, pegawai Puskesmas tidak sekadar mendata. Pegawai bakal melakukan intervensi bila mendapati anggota keluarga yang menderita penyakit tertentu. Seperti penyakit tidak menular. Intervensi ini salah satunya dengan menyarankan penderita berobat ke Puskesmas. “Bila memang tidak mau Puskesmas yang akan datang memberikan penanganan,” tambahnya. (*/zam/ila/mg1)