MUNGKID – Hampir empat bulan keluarga Islah, 38, warga Dusun Ngampel, Ngampeldento, Salaman, Kabupaten Magelang hidup dalam kondisi waswas. Rumahnya mengalami retak di beberapa bagian. Mulai ruang tamu, kamar dan menjalar ke dinding-dinding rumah.

Keretakan rumah sudah sejak akhir November tahun lalu. Semakin hari, retakan dinding dan lantai rumah diketahui semakin melebar. Untuk mengantisipasi peristiwa yang tidak diinginkan, keluarga Islah harus mengungsi.

“Saat hujan kami pergi dan menginap di rumah saudara. Khawatir retakan dinding semakin melebar,” kata Islah Senin (19/3). Retaknya rumah bermula ketika akhir November tiba-tiba muncul bunyi seperti kayu patah. Setelah dicek, ubin rumah Islah ternyata pecah. Lantai kamar mengalami pergeseran dan ambles sekitar 6 cm.

Tidak selang lama, keretakan diketahui semakin melebar. Bahkan kurang dari 24 jam, keretakan sudah mencapai 15 cm.”Keretakan merambat ke jendela, kusen, pintu, bahkan kerangka besi hingga putus,” ungkapnya.

Rumah Islah dibangun sekitar 2008 silam. Ukuran bangunannya panjang 12 meter dan lebar 16 meter. Adapun panjang retakan mencapai 10 meter dengan lebar bervariasi mulai 3 cm hingga 7 cm.”Saya merasakan tanah hingga saat ini masih gerak. Bahkan pernah terasa seperti ambles,” jelas Islah.

Selain rumah Islah, tetangga yang lain juga merasakan hal serupa. Total tanah retak menyasar enam rumah di Dusun Ngampel RT 04 RW 03, Ngampeldento. Rumah itu milik Kafidin (2 jiwa), Marlin (2), Holil (2) dan Masudi (3).

Tanah retak menyasar teras rumah, dinding dan bahkan ruas jalan dusun tersebut. Namun di antara enam rumah itu, yang cukup parah menyasar rumah Islah.

Salah seorang tokoh masyarakat Sudiarto menjelaskan, sejak diketahui tanah retak November tahun lalu, hingga kemarin belum ada bantuan yang diberikan. Peristiwa ini juga sudah dilaporkan ke beberapa pihak, di antaranya pemkab dan kepolisian.

Sudiarto yang juga masih keluarga korban sangat berharap segera mendapatkan uluran tangan dari pemerintah.”Kejadiannya kan sudah lama, harapannya ada tindakan berupa respons dari Pemerintah,” tambahnya.

Penghuni rumah merasa khawatir apabila tidak segera ada tindak lanjut dari pemerintah. Mengingat tanah retak diketahui semakin melebar. Bahkan jika dibiarkan terus menerus, rumah bisa ambruk dan rata dengan tanah.

“Ini kondisinya membahayakan. Ruang tamu sudah tidak ditempati lagi. Nanti dampaknya rumah bisa roboh dengan sendirinya. Karena memang semakin hari semakin gerak,” ungkapnya.

Tidak hanya di Desa Ngampeldento, tanah retak juga menyasar Dusun Jetis di Desa Menoreh, Salaman. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edy Susanto mengaku sudah mendapatkan laporan adanya tanah retak di kawasan Menoreh itu.

Terdapat beberapa poin dari hasil kaji cepat retakan tanah oleh Satgas BPBD Kabupaten Magelang. “Adanya retakan tanah sepanjang sekitar 560 meter,” jelasnya.

Hasil kajian lain ada tiga rumah yang mengalami retakan pada bagian ubin dan tembok. Retakan bervariasai, dengan lebar antara 5-30 cm. Muncul juga tanah ambles di puncak rekahan.

“Satgas penanggulangan bencana mencoba memasukkan bambu sepanjang 0,5 meter, lapisan bawah sudah muncul tanah jenuh (tanah bagian bawah berair). Tanah yang keluar berbentuk jenuh (berair) dan berbau menyengat,” ungkapnya. (ady/laz/mg1)