“Ini peninggalan simbah,” ungkap Sumarjiyana sambil menunjuk sekeliling Pendapa Kweden, saat berbincang dengan Radar Jogja ihwal BCB warisan keluarganya, akhir pekan lalu.

Komitmen pria 58 tahun ini bukan tanpa halangan. Tak sedikit kolektor barang antik melirik pendapa yang sekaligus menjadi rumah tinggalnya itu. Dengan tawaran harga fantastis tentunya. Tapi, Sumarjiyana selalu keukeuh. Dia selalu tegas kepada siapa pun yang datang ke rumahnya untuk membicarakan peralihan kepemilikan Pendapa Kweden. “Kalau mau lihat-lihat mangga. Tapi jangan pernah ngomongin itu (berniat membeli, Red),” tandasnya.

Sumarjiyana tak mengetahui persis kapan rumahnya dibangun. Yang dia tahu bangunan seluas 16 X 30 meter persegi tersebut didirikan kakeknya, Pawiro Sentono, sebelum pendudukan tentara Jepang. Saat perang kemerdekaan bangunan tersebut dijadikan gudang logistik. Pernah juga difungsikan sebagai tempat penyimpanan gula hasil curian ketika TNI menggelorakan taktik bumi hangus. “Setelah dicuri dari pabrik gula disimpan (di joglo) lalu dibagikan kepada masyarakat,” tutur pria yang juga dukuh Kweden.

Sumarjiyana menyadari bahwa usia rumahnya sudah sangat lawas. Tak jarang kontruksi bangunannya, seperti kayu, harus diganti karena lapuk. Kendati demikian Sumarjiyana mengaku tak pernah mengeluh soal biaya perawatan yang harus dikeluarkan. “Pernah direhab pada 2015. Dapat bantuan dari dinas kebudayaan,” ujarnya.

Sumarjiyana juga sering mendapat tawaran lain dari pemerintah setempat sebagai kompensasi pemilik bangunan cagar budaya. Contohnya, penggratisan pajak bumi dan bangunan serta tagihan listrik. “Tapi belum pernah saya ambil,” katanya.

Di tempat lain, pendamping tenaga ahli pratama Dinas Kebudayaan Bantul Willy Oktavian mengungkapkan, data benda cagar budaya maupun benda warisan budaya BWB bersifat dinamis. Dia mencatat, saat ini jumlah BCB di Kabupaten Bantul sebanyak 48. Sedangkan BWB 234. “Dari beberapa benda warisan budaya ini ada yang kami usulkan ke bupati untuk ditetapkan sebagai BCB,” katanya.

Ditegaskan, BCB maupun BWB tak boleh diotak-atik. Walaupun status kepemilikannya pribadi. Soal jual-beli BCB atau BWB, Willy menegaskan, hanya negara yang berhak membeli seandainya ada yang dijual.(yog/mg1)