BANTUL – Warga Dlingo I, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo tak sekadar konsisten merawat tradisi. Lebih dari itu, juga konsisten menjaga kelestarian sumber mata air. Itu ditandai dengan rangkaian tradisi merti dusun yang digelar Sabtu (17/3) lalu.

Salah satu rangkaian ritual “mengistimewakan” pohon Dadap Derep. Pohon Dadap Serep yang tertanam di sekitar belik itu disiram dengan air kendi.

Menurut Dukuh Dlingo I Seno, Belik Dadap, pohon Dadap Serep di sekitar belik punya peran penting bagi kehidupan warga. Air belik sering dimanfaatkan warga untuk berbagai kebutuhan. Contohnya, pertanian. Nah, sumber mata air ini pernah berhenti gara-gara pohon Dadap Serep mati setahun lalu. “Kemudian ditanam lagi tahun lalu,” jelas Seno di sela tradisi merti dusun di Dusun Dlingo I.

Dulu, Seno menceritakan, ada beberapa pohon Dadap Serep yang tumbuh di sekitar belik. Seolah saling-melengkapi, sumber mata air di belik ini tak pernah berhenti mengalir. Walau saat musim kemarau sekalipun. Namun, sekitar dua tahun lalu sumber mata air macet. “Kami meyakini karena pohon dadapnya mati semua,” ucapnya.

Bukan hanya sebagai penyeimbang sumber mata air, warga juga memanfaatkan pohon Dadap Serep sebagai obat. Terutama daunnya. Itu sebagai obat penurun panas. Saking ekstremnya lagi, Seno meyakini Dadap Serep sebagai simbol ketentraman warga.

Dikatakan, rangkaian tradisi merti dusun mulai digelar setiap Jumat Kliwon Jumadilakhir. Seabrek rangkaian acara digelar hingga Sabtu lalu. Seperti wiwitan, kirab jodhang dan ritual di belik Dadap. Seorang tokoh masyarakat Dlingo I Widiwanto mengungkapkan, pohon Dadap Serep yang tertanam di sekitar belik saat ini baru berusia setahun. Kendati begitu, tingginya telah mencapai sekitar tiga meter. “Kami akan terus merawatnya,” katanya. (zam/ila/mg1)