Prama Widya Pustaka merupakan nama dari perpustakaan Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Wonosari, Gunungkidul. Perpustakaan sekolah ini berada di jantung ibu kota kabupaten bermotto Handayani itu. Tepatnya di Jalan Brigjen Katamso, Kepek, Wonosari. Keberadaan perpustakaan sekolah tersebut dirintis cukup lama. Berdiri sejak 1973 atau 45 tahun silam.

“Perpustakaan ini mendukung pembelajaran di sekolah. Ada tiga pustakawan yang siap melayani setiap pengunjung,” ungkap Wakil Kepala SMAN 1 Wonosari Kardono Kamis (15/3).

Prama Widya Pustaka membuka layanan selama lima hari kerja. Senin-Jumat mulai pukul 07.00-16.30. Layanan ekstra diberikan pada Sabtu dari pukul 08.00-12.00. Perpustakaan tersebut dilengkapi berbagai fasilitas. Di antaranya ruang baca, ruang referensi dan ruang audio visual. Ruang baca terbagi menjadi dua. Di dalam dan luar gedung.

Sedangkan ruang audio visual digunakan untuk pemutaran film. Terutama mendukung gerakan literasi sekolah (GLS). Film yang diputar bertemakan motivasi kepada peserta didik. Khususnya menyemangati dan menumbuhkembangkan budaya membaca.

Perpustakaan ini punya sepuluh ribu koleksi buku. Di antaranya, buku-buku pelajaran dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bacaan umum hingga novel. Ada juga buku-buku bantuan pihak ketiga. “Buku-buku yang paling diminati jenis novel,” tutur Kardono.

Wakil kepala sekolah bidang sarana dan prasarana ini mengaku bangga dengan makin tingginya budaya membaca di kalangan anak didiknya. Bahkan di antara mereka ada yang mampu menjadikan buku. Ada enam buku sastra antologi puisi karya siswa SMAN 1 Wonosari berhasil diterbitkan. Antologi puisi itu ikut menghiasiasi Prama Widya Pustaka.

Eksistensi perpustakaan SMAN 1 Wonosari itu rupanya menarik perhatian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Terbukti kemarin, Prama Widya Pustaka ikut menjalani akreditasi dari tim PNRI. Ada dua assessor, Anggun Kusuma Tri Utami dan Nurwidyastuti datang mengunjungi sekolah tersebut. Kunjungan dilakukan dari pukul 12.00-15.00.

Tentang akreditasi, Kardono mengatakan, ada sembilan komponen yang harus dipenuhi. Antara lain pola layanan, kerja sama, koleksi, manajemen organisasi, sarana prasarana, anggaran, perawatan hingga sumber daya manusia (SDM). Terkait SDM, dia mengakui ada keterbatasan. Sebab, sekolahnya baru punya tiga orang pustakawan.

Jauh sebelum adanya akreditasi itu, perpustakaan SMAN 1 Wonosari ini punya segudang prestasi. Baik tingkat kabupaten maupun provinsi. Misalnya, 2008 menjadi juara tiga tingkat provinsi. Sedangkan 2016 menjadi jawara perpustakaan tingkat SMA se-Kabupaten Gunungkidul. “Tahun lalu, kami mendapatkan juara harapan 1 tingkat provinsi,” ujar Kardono.

Kepala Sub Bidang Pembinaan dan Pemberdayaan Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah (BPAD) DIY Dewi Ambarwati menjelaskan, SMAN 1 Wonosari masuk dalam akreditasi perpustakaan sekolah kelompok II.

Dalam kelompok ini ada delapan sekolah. Tujuh sekolah lainnya adalah SDN 1 Bantul, MTsN 4 Bantul, SMPN 2 Sewon, Bantul, SMKN 7 Yogyakarta, SMAN 7 Yogyakarta, SMAN 1 Bantul dan SD Islam Terpadu (IT) Luqman Al Hakim Internasional (LHI) Yogyakarta. Penilaian berlangsung tiga hari dari 13-15 Maret 2018. (*/gun/kus/mg1)