JOGJA – Silsilah atau asal usul penggugat menjadi bahasan sentral dalam pemeriksaan saksi sidang sengketa kepemilikan tanah calon lokasi Bandara Kulonprogo antara penggugat Suwarsi dkk melawan KGPAA Paku Alam X di Pengadilan Negeri (PN) Jogja, Kamis (15/3).

Penasihat hukum (PH) Suwarsi dkk, Prihananto SH mengajukan Ismanto dan Joko Santoso sebagai saksi. Kedua saksi berasal dari Surakarta. Baik Ismanto maupun Joko sama-sama menerangkan asal usul Suwarsi dkk sebagai trah atau keturunan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun.

“Pembayun itu juga punya nama Waluyo atau Ratu Sekar Kedhaton,” terang Ismanto yang mendapatkan giliran pertama memberikan kesaksian. Setahu Ismanto, Ratu Pembayun merupakan putri raja Surakarta Susuhunan Paku Buwono X.

Ratu Pembayun ini kemudian menikah dengan RM Wugu Harjo Sutirto. Dari pernikahan itu melahirkan Suwarsi dan Suwarti yang sekarang telah meninggal. Kelahiran Suwarsi sebagai anak Pembayun itu tertera dalam surat nazab nomor 127/D/III dari Raad Igama Surakarta atau Pengadilan Agama Surakarta 12 September 1943.

Menurut Ismanto, nazab atau silsilah itu menerangkan Pembayun alias Waluyo alias Sekar Kedhaton putri Paku Buwono X atau Malikoel Koesno dengan GKR Emas atau Gusti Raden Ajeng (GRAj) Moersoedarinah, putri Sultan Hamengku Buwono VII.

Pembayun kemudian menikah dengan RM Wugu Harjo Sutirto dari Kadipaten Madura. “Dari perkawinan itu melahirkan Gusti Raden Ayu Koessoewarsiyah alias Suwarsi,” ungkap pria yang punya usaha agen koran di daerah Keprabon, Sala ini.

Ismanto mengaku mengenal keluarga Suwarsi cukup lama. Tepatnya sejak 2008. Hubungan paling intens dia lakukan dengan putra sulung Suwarsi, Agus Sutono. Dari Agus Sutono itu dia pernah dikenalkan dengan eyang Pembayun. “Beliau meninggal 2011 dan dimakamkan di Desa Gawanan, Colomadu, Surakarta,” bebernya.

Kembali soal nazab, Ismanto mengaku mengetahui karena ikut menyaksikan saat dilegalisasi di Pengadilan Agama Surakarta. Karena itu, dia meyakini Suwarsi merupakan keturunan Paku Buwono X dari Ratu Pembayun. “Silsilah itu saya tahu dari nazab,” ulangnya di depan majelis hakim yang diketuai Hapsoro SH.

Di tempat sama, PH tergugat RM Setyo Hardjo SH dan Herkus Wijayadi SH memasalahkan keterangan Ismanto itu. Keduanya menanyakan apakah saksi tidak melakukan cek silang terkait silsilah Ratu Pembayun.

Sebab, sejak awal, pihak tergugat meragukan keabsahan para penggugat sebagai ahli waris Ratu Pembayun. Setyo Hardjo dan Herkus kemudian mencecar Ismanto dengan banyak pertanyaan. Kejadian serupa dialami saksi Joko Santoso. Lantaran banyak mendapatkan serangan, Joko sempat beberapa kali keliru menjawab pertanyaan.

Misalnya menyangkut penyebutan gelar Waluyo alias Pembayun. Mestinya karena perempuan, sebutannya adalah GKR atau raden ayu (RAy). Namun Joko keseleo lidah dengan menyatakan raden mas (RM) Waluyo. “Benar sebutannya RM Waluyo?” tanya Nur Wijaya SH, jaksa pengacara negara (JPN) dari Kejati DIJ. Nur Wijaya menjadi PH PT Angkasa Pura I sebagai turut tergugat dalam perkara tersebut.

Lantaran grogi dikejar pertanyaan bertubi-tubi, Joko mengiyakan pertanyaan Nur Wijaya. Pembayun alias Waluyo disebutnya bergelar RM. Mendengar jawaban itu, Nur Wijaya, Herkus dan sejumlah anggotanya timnya langsung tertawa terpingkal-pingkal. Mengetahui itu, Ketua Majelis Hakim Hapsoro langsung menegurnya. “Jangan menertawakan begitu di sidang,” ingat Hapsoro.

Menjelang sidang berakhir, Hapsoro sempat bertanya soal inisiatif mengajukan legalisasi nazab ke Pengadilan Agama Surakarta. Joko menyebut surat nazab didapatnya dari Agus Sutono. Dia mengaku sebagai pihak yang punya inisiatif meminta legalisasi dari pengadilan.

Jalannya sidang ditunda dua pekan ke depan Kamis (29/3). Agendanya masih pemeriksaan saksi dari penggugat. Ada dua orang saksi yang akan dihadirkan Prihananto ke muka persidangan. (kus/ila/mg1)