BANTUL – Tradisi merti dusun di Dusun Sanggrahan I, Muntuk, Dlingo yang diadakan Kamis (15/3) benar-benar mencerminkan kehidupan masyarakat agraris. Orang dewasa, anak-anak hingga balita tumplek blek dalam tradisi yang digelar untuk mensyukuri berbagai hasil panen pertanian ini. Mereka tampak guyub mengarak berbagai hasil panen tahun ini mengelilingi kampung.

Cerminan lain bahwa sektor pertanian menopang sendi-sendi kehidupan warga juga terlihat dari salah satu rangkaian merti dusun. Sejumlah orang dewasa berpakaian seragam sekolah tampak bersuka-cita melenggak-lenggokkan tubuhnya. Persis seperti keriangan anak-anak sekolah.

“Ini menunjukkan bahwa pertanian mampu membiayai pendidikan warga kami,” jelas Dukuh Sanggarahan I Zamzanudin di sela acara.

Zamzanudin menyebut nyaris seluruh warganya berprofesi sebagai petani. Aktivitas sehari-hari warga jauh dari hiruk-pikuk khas masyarakat perkotaan. Kendati begitu, kondisi ini justru kian memperkuat berbagai nilai dan tradisi yang mulai jarang ditemui di lingkungan perkotaan. Contohnya, kesederhanaan. “Gotong-royong dan nilai-nilai kebersamaan masyarakat sangat kuat,” ucapnya.

Menurutnya, tradisi merti dusun digelar setiap bulan Jumadilakhir. Kebetulan, hitungan bulan berdasar kalender Jawa tahun ini bertepatan dengan Maret.

Melalui tradisi ini, Zamzanudin berharap, hasil sektor pertanian kembali melimpah. Agar roda perekonomian warga dapat tetap berputar. “Tahun ini ada support dari Dinas Pariwisata DIJ,” tambahnya.

Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD DIJ Aslam Ridlo menganggap berbagai tradisi yang melestarikan nilai-nilai luhur seperti merti dusun patut didukung pemerintah. Contohnya di Dusun Sanggrahan I. Apalagi, warga Dusun Sanggrahan I setiap tahun rutin menyisihkan penghasilannya untuk membiayai merti dusun.

“Kebiasaan warga ini juga menunjukkan bahwa warga tidak selalu bergantung kepada pemerintah,” pujinya.

Dikatakan, kawasan Dlingo sejak beberapa tahun terakhir menjadi salah satu primadona dalam dunia pariwisata. Karena itu, politikus PKB ini mendorong agar berbagai tradisi di wilayah Dlingo ikut diangkat ke permukaan. “Ini bisa menjadi magnet tersendiri,” tambahnya. (zam/ila/mg1)