PURWOREJO- Kaligesing sebenarnya bukanlah penghasil terbesar buah duku di Purworejo. Secara peringkat Kaligesing masih di bawah Kecamatan Bruno yang memiliki populasi cukup besar. Dan dibawah kedua kecamatan itu ada kecamatan Bener, Loano, dan Bagelen.”Data yang kami miliki memang belum sampai kepada luasan lahan tapi kalau mau dikonversikan ke hektar juga bisa,” kata Kabid Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Purworejo Eko Anang SW Kamis (15/3).

Meski sangat potensial untuk dikembangkan dan bisa disejajarkan dengan manggis dan durian, pengembangan buah duku masih kalah jauh. Selain itu, belum banyak masyarakat yang mengembangkannya.

Di lapangan tanaman yang ada mayoritas relatif berusia tua yakni di atas 50 tahun. Para petani belum memaksimalkan pembudidayaannya walaupun nilai jualnya cukup tinggi. Selama ini petani lebih memilih mengembangkan manggis ataupun durian.”Saat ini kami juga telah mendorong agar petani mulai melirik duku,” katanya.

Dengan usia pohon yang relatif tua, memang tidak bisa dimaksimalkan. Hanya saja, petani tetap mempertahankan karena masih bisa menghasilkan dengan baik. “Untuk pohon yang usianya tua memang banyak masalah yang muncul. Khusus duku ada ulat pengerek buah yang mulai menyerang saat pembungaan hingga muncul buah muda. Ini harus bisa disiasati oleh petani dengan perawatan yang baik,” tambahnya.

Kebiasaan petani untuk melakukan perawatan juga masih perlu ditingkatkan. Mereka selama ini tidak melakukan pengolahan lahan secara optimal dimana hanya melakukan pemetikan saja saat berbuah tanpa ada pemupukan secara kontinyu dan baik. “Di Bruno ada pohon yang usianya relatif tua tapi bisa menghasilkan secara optimal. Tapi itu tidak dikelola oleh petani sendiri. Sejak mulai berbunga, buah itu sudah dibeli orang dari luar wilayah dimana mereka melakukan perawatan dengan baik misalnya mulai dari penyemprotan dan lain sebagainya,” katanya.

Andaikan langkah itu juga dilakukan oleh petani duku di Purworejo yang lain, tidak menutup kemungkinan produksi buahnya lebih banyak lagi dan optimal. Anang juga meminta agar petani memanfaatkan keberadaan pupuk organik dan daun-daun yang jatuh untuk pemupukan. (udi/din/mg1)