KOMPAK : Suporter PSIM Jogja setia mendampingi tim pujaannya di mana pun bertanding. (RADAR JOGJA FILE)

Muslih Burhanudin merupakan presiden baru Brajamusti yang terpilih dalam Musyawarah Anggota (Musta) Brajamusti di Wisma PSIM Jogja, Minggu (11/3). Muslih Menggantikan Rahmat Kurniawan yang menjadi presiden Brajamusti periode 2015-2018.

Muslih tentu bukan orang baru di Brajamusti. Muslih Burhanudin cukup aktif mengurusui para suporter Brajamusti. Tole sapaan akrabnya pernah menjabat sebagai wakil bendahara, menteri koordinator yang membawahi divisi usaha dana, advokasi dan divisi punggawa. Selain itudia juga pernah menjadikordinator tour dan tamu. Nah, segudang pengalaman mengurusi suporter Brajamusti inilah yang menjadi salah satu nilai lebih dia terpilih menjadi presiden.

Sebagai anggota Brajamusti, Tole sama dengan suporter-suporter kebanyakan. Yakni menjadi penggila bola dan suporter fanatik sejak belia. Muslih mengingat kembali kenangannya sebelum menjadi pengurus Brajamusti. Yakni kali pertama menonton PSIM Jogja diajak oleh kakaknya saat umur 15 tahun. Kenangan itu sangatmembekas di benaknya. Dan mulai saat itu, dia cinta mati dengan

SEMANGAT: Suporter dari semua kalangan dan usia tak kenal lelah memberikan dukungan. (RADAR JOGJA FILE)

PSIM.”Mulai saat itu, saya memberanikan diri untuk pergi untuk menonton setiap PSIM bertanding,” ujarnya.

Tak sekadar menonton tentu saja. Muslih kecil pun selalu mengajak teman-temannya untuk menonton bersama di Stadion Mandala Krida. “Pada saat itu belum ada Brajamusti, tapi namanya masih PTLM (Paguyuban Laskar Mataram)” jelasnya.

Ada saja cerita yang menggelikan waktu masih kecil ketika menonton PSIM bermain. Muslih dan teman-temannya dari Kulonprogo pernah berjalan kaki ke Stadion Mandala Krida home base dari PSIM hanya sekadar ingin menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Selain itu pernah bermalam di masjid karena tempat sewaan sepada yang dititipi sudah tutup karena sudah larut malam.

Tidak hanya cerita pada masa-masa kecil saja tapi pada saat sudah beristri, Muslih pernah lupa hari ulang tahun istrinya, karena sibuk mengurusi suporter PSIM yang pada hari itu sedang menonton pertandingan. Padahal malam itu kue ulang tahun dan keluarga sudah siap untuk merayakan ulang tahun.”Alhasil kue yang sudah disiapkan dibuang begitu saja,” tambahnya.

KOMITMEN: Presiden Brajamusti Periode 2018-2022 Muslih Burhanudin. (KUN PRAYOGI HERLAMBANG/RADAR JOGJA)

Ketika ditanyai apa yang akan dilakukan bersama Brajamusti ke depan, pria kelahiran Kulonprogo ini akan melakukan apa saja untuk memajukan Brajamusti. Terlebih lagi jumlah laskar yang tercatat ada sekitar 300 laskar yang tersebar dan menaungi sekitar 15.000 suporter. Besarnya jumlah supporter yang dimiliki memiliki potensi gesekan yang cukup besar baik antarsuporter sendiri maupun dengan kelompok suporter lain.”Suporter kami rata-rata usianya masih cukup muda. Karena itu perlu banyak komunikasi dan edukasi agar gesekan-gesekan dapat dihindari,” ungkap ayah satu anak ini.

Program-program yang akan dilaksanakan di antaranya melakukan silahturhami ke setiap homebase laskar-laskar. Juga memberikan wadah untuk para suporter yang kreatif untuk bisa mengembangkan kreativitasnya dalam mendukung PSIM. “Kami sadar andil kami memang belum banyak untuk tim. Maka dari itu kami akan selalu memaksimalkan apa yang bisa kami kumpulkan dan kami perbuat untuk tim,” tambah pria berumur 39 tahun ini.

Saat ini pihaknya sudah memulai mengurangi tingkah-tingkah yang negatif dan merugikan Brajamsuti dan tim PSIM. Program yang dilakukan selalu berdasarkan kultur dan tradisi suporter Indonesia yaitu fanatisme,tetapi tetap positif.

Perubahan signifikan yang ditunjukkan Brajamusti ini dibenarkan Pelatih PSIM Jogja Erwan Hendarwanto. Dia meilai sudah banyak perubahan yang diperlihatkan oleh kelompok suporter yang sudah genap 15 tahun ini. Hal itu terlihat sejak PSIM Jogja bermarkas di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul. Ini karena Stadion Mandala Krida saat ini dalam fase renovasi.

Nah mulai saat itu, sudah jarang sekali adanya gesekan yang terjadi antarsuporter. Juga tidak ada kembang api dan flare yang dinyalakan saat di stadion.”Saya melihat Brajamusti sudah banyak berubah dan perubahan itu mengarah yang positif,” pujinya.

Menanggapi pergantian pengurus Brajamusti, dia mengharapkan adanya semangat baru dan aura positif yang bisa dirasakan langsung kepada tim. Tidak hanya sekadar hadir untuk menyaksikan tapi juga bisa memberikan hal-hal kreatif untuk memompa semangat para pemain bertanding.

Harapan yang sama juga datang dari mantan pengurus yang juga pernah menjadi presiden Brajamusti yaitu Eko Satrio Pringgondani. Eko mengatakan suporter dan tim harus memiliki satu kesatuan yang sama dan tidak ada kesan intervensi baik ke tim maupun ke suporter.”Tapi harus tetap menjalin komunikasi dan berintegritas yang baik,” jelasnya. (din/mg1)