GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

SLEMAN – Orang tua yang mendapati anak sulit dibangunkan ketika tidur patut waspada. Bisa jadi sebelum tidur si anak telah mengonsumsi permen dengan kandungan zat berbahaya. Hal ini sebagaimana informasi yang beredar luas lewat aplikasi WhatsApp di wilayah Ngemplak, Sleman.

Salah seorang anak yang diduga mengonsumsi permen tersebut adalah Ahmad Tafaul. Sang ibu, Siti Marwiyah,41, membenarkan jika buah hatinya sempat susah dibangunkan.

“Kejadiannya Rabu (14/3) pagi saat saya bangunkan untuk sekolah. Saat saya mandikan dengan air hangat dan dingin pun tetap tidak merespons. Jadi seperti memandikan orang yang sudah tak bernyawa,” ungkap warga Dusun Kejambon Lor, Sindumartani, Ngemplak itu.

Bahkan, saat dipakaikan seragam Faul, sapaannya, tetap tidak merespons. Faul lantas diperiksakan di Puskesmas Ngemplak Unit I. “Saat diperiksa detak jantungnya tergolong normal,” katanya.

Anak enam tahun itu mulai sadar setelah dokter memberi bantuan pernapasan dengan oksigen.

“Saat awal sadar sempat batuk. Faul juga sempat sulit berbicara beberapa waktu,” lanjut Siti.

Malam hari sebelum kejadian itu, menurut Siti, Faul tidur sebelum isya. Lalu pukul 20.30 mendadak terbangun lantaran tersedak lalu muntah. Saat tengah malam Faul biasanya dibangunkan untuk pipis. Tapi matanya tetap tertutup, tidak seperti biasanya.

Siti sempat bertanya kepada anaknya tentang makanan yang dikonsumsi. Faul mengaku jajan di sekolah dan minum minuman sachet Selasa (13/3). Lalu setelah mengaji di masjid dekat rumah Faul jajan dua bungkus permen dan siomai. Sepulang di rumah Faul kembali jajan permen yang sama sebungkus.Tiap bungkus terdiri tiga permen. Dengan begitu, Faul mengonsumsi sembilan permen.

Siti justru menyesalkan kejadian yang menimpa anaknya menjadi viral. Sementara dia sendiri tak punya gawai dengan fasilitas WhatsApp.Kok bisa menyebar. Padahal kata dokter, penyebabnya belum pasti. Meskipun Faul sudah sehat sekarang dan bisa main seperti biasa,” paparnya.

Atas kejadian tersebut Kapolsek Ngemplak Kompok Sugiyarto mengimbau masyarakat tidak panik. Kendati demikian, Sugiyarto menerjunkan tim untuk mengumpulkan bukti, baik sampel produk maupun saksi. “Jika memang penyebabnya permen itu, tunggu saja hasil pemeriksaan laboratorium agar tidak simpang siur. Karena anak-anak lain juga sempat jajan permen itu,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Nurulhayah menyatakan belum bisa memastikan kandungan permen tersebut.

Untuk memastikan penyebab masalah tersebut Dinkes juga menerjunkan tim untuk penelitian. Termasuk mempelajari pola hidup Faul menjelang tertidur lama, hingga makanan apa saja yang dia konsumsi.

Dinkes juga akan menelusuri asal usul permen yang diduga menjadi penyebab Faul tidur lama. Di sisi lain, Nurulhayah mengimbau para orang tua agar lebih memperhatikan jajanan anak. Agar anak-anak tak sembarangan jajan, terutama jenis makanan atau minuman asing yang tidak lazim. Setiap jajanan anak juga harus dipastikan memiliki izin edar dari Balai Pengwasan Obat dan Makanan.

Sementara itu, Camat Ngemplak Siti Wahyu Purwaningsih menegaskan, pengawasan peredaran makanan di wilayahnya telah digiatkan. Kendati demikian, langkah tersulit adalah membina penjual makanan. “Selama ini anjuran kepada sekolah telah berjalan efektif. Jajanan kantin tidak asal murah namun bergizi,” ujarnya.

Namun, Wahyu tak memungkiri jika pihak sekolah sulit melarang siswa jajan di luar gerbang sekolah.(dwi/yog/mg1)