SANGAT HALUS: Hasil pemintalan benang dari ulat sutra daun singkong. (DWI AGUS/RADAR JOGJA)

Mendengar kata sutra sudah pasti yang terbayang adalah ulat pemakan daun murbei. Pemilik nama latin bombyx mori ini terkenal menghasilkan benang sutra yang halus. Tidak hanya mengkilat, tekstur produk olahannya berupa kain pun sangat halus.

Sama-sama budidaya ulat sutra, warga Dusun Pereng, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo melirik spesies pemakan daun singkong. Di bawah binaan lembaga Jantra Mas Sejahtera (Jamtra), mereka memproduksi kain pintal berbahan bulu ulat sutra daun singkong. Namanya sutra samia atau sutra daun singkong. “Kualitasnya tak kalah dengan ulat sutra murbei. Hanya warna kain yang dihasilkan lebih kalem dan cenderung doff,” ungkap Managing Director Jamtra Yunianto H. Nugroho di sela pembukaan Pameran Kriya 2018 di Atrium Hartono Mall belum lama ini.

Potensi ulat sutra samia cynthia ricini memang belum sehebat sutra murbei. Namun justru hal itulah yang membuat Jamtra terdorong membudidayakannya.

Kepompong dan fisik ulat sutra daun singkong tak berbeda dengan ulat sutra murbei. Hanya, model pengolahannya yang berbeda. Sutra murbei diambil benangnya. Sementara ulat singkong dimanfaatkan seratnya. “Masuk usia 27 hari sudah bisa dipanen. Bahkan, pupa dari kokonnya bisa diolah jadi kuliner kaya protein,” ungkapnya.

Pemeliharaan ulat samia ternyata cukup sederhana. Apalagi, ulat ini lebih suka daun singkong jenis karet. Anto, sapaannya, pernah bereksperimen dengan memberi makan ulat samia dengan daun murbei, namun ditolak. Saat diberi daun singkong biasa pun tak begitu doyan. Nah, dari situlah Anto melihatnya sebagai peluang emas. Terlebih pakan ulat samia bisa dibilang sangat melimpah.

Setelah budidaya ulat samia lancar, barulah dilakukan uji coba pembuatan kain sutra singkong. Pengolahannya diawali dengan mengeluarkan pupa dari kokon. Selanjutnya kokon sutera direbus dan dipintal menggunakan jantra, sehingga menjadi benang. Benang inilah yang kemudian dirajut menjadi helaian kain sutra.

Tiap satu kilogram benang bisa menghasilkan empat meter kain sutra samia. Sedangkan untuk mendapatkan satu kilogram benang dibutuhkan paling sedikit 2.400 butir kokon.

Saat ini produksi kain sutra sama memang belum begitu masif. Warga binaanJamtra sendiri mengalami kendala alat yang masih tradisional. Sehingga hasilnya belum maksimal. Tiap jantra paling hanya bisa menghasilkan tiga ons benang bagi masing-masing pekerja. Sedangkan Jamtra baru memiliki 25 jantra.

“Kalau soal pakan tidak masalah,” katanya optimistis. Untuk menjamin ketersediaan pakan, Jamtra berencana membuat kebun singkong skala besar dengan sistem sambung. Agar umbi ketela tetap bisa dijual, sementara daunnya untuk pakan ulat samia.

Anto optimistis kain sutra samia bisa menjadi produk unggulan dan mampu bersaing dengan sutra murbei dari berbagai daerah. Bahkan produk sutra samia produksi Jamtra pernah dinobatkan sebagai tiga besar terbaik dalam lomba desa tingkat nasional.(yog/mg1)