HARI Peduli Sampah Nasional 2018 Kabupaten Sleman disambut dengan sukacita. Beragam program Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman telah dijalankan dalam rangka mewujudkan Sleman bersih indah, dan hijau. Salah satunya, sosialisasi kebijakan dan program pengelolaan sampah masyarakat. Kegiatan ini sekaligus untuk menggugah kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah, serta meningkatkan budaya bersih masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman Drs Purwanto MSi mengatakan, Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2018 diaktualisasi melalui langkah kerja bersama dalam agenda tiga bulan bersih sampah. Adapun beberapa kegiatan yang telah berjalan, antara lain, Gerakan Bersih Sampah tiap Jumat (23 Februari-21 April) yang diinisiasi dan dilaksanakan oleh semua organisasi perangkat daerah, kepala desa, BUMD, dan kepala sekolah. Kemudian Car Fee Day Bebas Sampah. Dilaksanakan di seputaran Lapangan Denggung, Jalan KRT Pringgodiningratan, dan Jalan Turgo setiap Minggu (25 Februari-15 April). Selanjutnya Gropyok Sampah, dilaksanakan oleh seluruh masyarakat bersama Forum Komunitas Peduli Lingkungan dan Saka Pramuka. “Kegiatan ini telah dilaksanakan pada Jumat (2/3) lalu dengan melibatkan 400 orang,” ujar Purwanto.

Kegiatan berikutnya sarasehan HPSN, program kali bersih, sosialisasi bidang lingkungan hidup, penanaman pohon, dan patroli sampah liar. Menurut Purwanto, patroli sampah liar dilakukan berdasarkan aduan masyarakat adanya aksi pembuangan sampah di sembarang tempat. Dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Sleman bekerja sama dengan Satpol PP, Polres, pemerintah desa/kecamatan, dan masyarakat untuk giat melakukan patrol sampah liar (Pasali) di lokasi kejadian. Target operasi sampah liar disidangkan di pengadilan untuk dilakukan pembinaan. “Pasali memang bertujuan memberikan efek jera bagi warga yang membuang sampah sembarangan sesuai aturan yang berlaku,” jelas Purwanto.

Lebih lanjut dikatakan, setiap hari masyarakat Sleman menghasilkan sampah rumah tangga sedikitnya 100 ton. Dinas Lingkungan Hidup telah mengisisiasi beragam program pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Sehingga sampah yang dibuang ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Piyungan sudah dalam bentuk residu. Sampah dari masyarakat perkotaan ditampung dulu ke transfer depo untuk dipilah antara jenis organik dan anorganik. Sampah organik diolah menjadi kompos. Sementara sampah anorganik yang didominasi jenis plastik dipilah untuk didaur ulang atau dijual lagi lewat Bank Sampah. Sedangkan bagi masyarakat pedesaan dibangunkan tempat pengelolaan sampah reuse, reduce, recycle (TPS 3R).

“Sampah tidak boleh dibakar, terutama plastik,” ingatnya. Menurut Purwanto, plastik yang dibakar mengasilkan asap dengan kandungan zat dioxin yang kadar bahayanya 350 kali lebih besar dibanding asap rokok. (*/yog/mg1)