JOGJA – Untuk mencapai Indonesia berkemajuan harus didukung kedaulatan dan keadilan dalam berbagai lini kehidupan. Guna mencapai hal itu, sebagai masyarakat dan bangsa Indonesia mestinya lebih mengedepankan pemahaman pada nilai-nilai yang terkandung pada pancasila.

“Pancasila dan peradaban dunia terkesan sebagai mimpi. Namun baik secara teoretis dan empiris, banyak tokoh dunia yang mengapresiasi Pancasila,” ungkap Muhammad Sirajuddin Syamsuddin dalam Orasi Kebangsaan Milad ke-54 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Gedung KH Ibrahim Lantai 5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (14/3).

Peradaban dunia saat ini, kata dia, tengah mengalami kerusakan. Para tokoh elite dunia sering menyebutnya dengan “dunia yang tak pasti”. Karena dunia saat ini menganut pada liberalisme, sekulerisme, dan ekonomi neoliberal, yang sebenarnya berwajah anti-Tuhan dan berpusat pada manusia. Menurutnya, hal ini memerlukan solusi.

Dalam orasi kebangsaan yang bertajuk “Meneguhkan Pancasila sebagai Ruh dalam Politik ke-Indonesiaan” mantan Ketua PP Muhammadiyah yang akrab dipanggil Din Syamsuddin ini menawarkan dua solusi. Pertama, perubahan kemajemukan dunia. Perlu satu nilai-nilai untuk hidup bersama. “Di Indonesia sudah menganut nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika yang mengakui kemajemukan,” tandasnya.

Kedua, tidak sebatas slogan namun diperlukan ideologi seperti Pancasila. Jika Pancasila didalami sangat mencerminkan nilai nilai agama. “Tidak mungkin ada kerukunan dalam bangsa ini jika belum ada kesepakatan,” tegasnya. Sehingga, diperlukan sikap pemahaman terhadap nilai-nilai Pancasila untuk mewujudkan semua itu.

Tantangan terdepan bagi pemuda Muhammadiyah adalah pembuktian empiris oleh bangsa Indonesia itu sendiri. Diperlukan langkah secara nyata oleh baik secara internal dan domestik, Pancasila harus diamalkan serta disenyawakan dalam setiap aspek kehidupan.

Din menaruh harapan terhadap IMM agar menampilkan diri sebagai kader sejati Muhammadiyah. “Baik sebagai pelopor, pelangsung, penyempurna cita-cita Muhammadiyah,” tegasnya. Oleh karena itu, dari IMM harus lahir elite-elite strategis seperti ilmuwan, cendekiawan, ulama, mubaligh, pekerja sosial, organisator, dan sebagainya.

Milad ke-54 IMM ini merupakan sebuah refleksi untuk meneguhkan nalar kebangsaan sebagai pemuda, untuk menjadi Indonesia yang teguh serta kokoh memegang nilai-nilai Islam. “Pancasila harus menjadi ruh berbangsa dan bernegara,” ungkap Ketua Umum DPP IMM Ali Mutohirin.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Hikmah DPP IMM Muhammad Solihin mengatakan, milad IMM kali ini merupakan bentuk membangun gagasan yang lebih besar. Selain itu juga sebagai tonggak membangun impian yang lebih besar. “Agar impian yang sudah dibangun oleh pendiri IMM tidak runtuh,” tandasnya.

Malam puncak milad digelar dengan menghadirkan tokoh-tokoh Muhammadiyah, digelar Rabu malam (14/3) di Sportorium UMY. Puncak milad diisi kuliah umum yang disampaikan Ketua DPR RI Bambang Soesatyo untuk memberi semangat dan dukungan kepada kader-kader IMM. (**/cr2/laz/mg1)