SLEMAN – Kasus penelantaran bayi di Ngropoh, Condongcatur, Depok, Sleman setidaknya membuktikan ada orang tua yang tidak peduli bahkan tega meninggalkan anaknya. Sementara di sisi lain, banyak orang tua yang tak memiliki buah hati berniat untuk menjadi orang tua asuh.

Menurut Pimpinan Panti I Yayasan Sayap Ibu Djumari, 55, di pantinya setidaknya rata-rata ada sepuluh pengajuan adopsi setiap bulannya. Padahal untuk mendapatkan izin sebagai orang tua asuh tidaklah mudah.

“Harus mengurus blangko di Dinas Sosial (Dinsos) provinsi dahulu. Syarat, minimal telah menikah lima tahun. Untuk perempuan harus menyertakan surat keterangan dari dokter kalau susah punya anak,” jelasnya Rabu (14/3).

Blangko tersebut langsung ditujukan kepada badan sosial legal. Selanjutnya yayasan terkait dengan Dinsos DIJ berkunjung ke rumah calon orang tua asuh. Tujuannya inspeksi apakah memenuhi syarat dari sisi keluarga dan lingkungan.

Setelah ada kecocokan calon orang tua bisa berkunjung ke panti asuhan tertunjuk. Dirinya mencontohkan Yayasan Sayap Ibu sebagai panti asuhan tertunjuk. Setelah anak asuh dibawa, orang tua asuh tetap memberikan laporan setiap bulannya.

“Setiap sebulan sekali memberi laporan perkembamgan anak. Harapannya agar anak bisa mendapatkan kehidupan yang layak dan lebih baik,” ujarnya.

Masa ini tidak langsung menyerahkan hak asuh kepada orang tua asuh. Masih ada monitor rentang waktu enam hingga 12 bulan. Jika tidak ditemukan masalah dan polemik bisa diajukan ke Pengadilan Negeri sesuai wilayah.

Untuk saat ini hanya ada tiga panti asuhan berstatus badan sosial yang resmi di Jogjakarta. Selain Yayasan Sayap Ibu, ada Gotong Royong dan Panti Asuhan Sosal Anak milik Dinsos DIJ. Ketiga badan sosial menjadi rujukan bagi adopsi anak.

Khusus prosedur anak asuh yang ditelantarkan dengan sengaja ada catatan dari kepolisian. “Untuk kasus itu (penelantaran), tergolong sebagai aksi kriminal sehingga tetap menunggu penyidikan polisi. Tapi jika pelaku masih ingin mengasuh maka kami kembalikan kepadanya,” katanya.

Begitu pula jika orang tua dari pelaku ingin mengasuh tidak perlu proses adopsi. Djumari menuturkan, aturan adopsi tidak berlaku bagi garis keturunan vertikal. Beda halnya jika saudara dari pelaku, tetap diterapkan aturan adopsi anak. (dwi/ila/mg1)