Komunitas Untuk Jogjakarta (KUJ) didirikan pada 28 Desember 2013. Fadjar Basoeki, 59, merupakan pelopor pergerakan ini. Keinginannya memberdayakan mahasiswa sebagai garda terdepan perubahan mulai terlihat hasilnya.

Ceritanya bermula pada 2007. Tahun pertama Fadjar menginjakkan kakinya di Jogjakarta, setelah sekian lama bermukim di Jakarta. Dia diutus ke Jogjakarta sebagai konsultan pertanian Bank Dunia. Misi itu pula yang membuat pria humoris ini bertemu dengan banyak mahasiswa Jogjakarta dan terdorong membentuk Komunitas Untuk Jogja (KUJ) pada 2013.

Mengenai seluk beluk pertanian, Fadjar banyak belajar dari petani Bantul. Dari situ dia menyadari jika praktik lapangan tak semudah menghapal teori di kampus. Karena itu dia melibatkan mahasiswa sebagai kader pertanian organik masa depan.

Di mata Fadjar, mahasiswa adalah salah satu kunci pembangunan masyarakat Jogjakarta. “Mahasiswa biasanya lebih banyak mendapat teori dan kurang praktik. Lewat KUJ mereka mendapatkan ilmu yang bisa diterapkan di masyarakat,” tutur pria yang tinggal di Jalan Srigunting, Caturtunggal, Depok, Sleman.

KUJ merupakan pergerakan mahasiswa peduli lingkungan. Basecamp pergerakan ini berada di kediaman Fadjar. Pengelolaan sampah untuk kesehatan lingkungan menjadi salah satu kegiatan utama KUJ. Mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang bernilai, seperti bros dan gantungan kunci. Selanjutnya, pembuatan MOL (Mikroorganisme Lokal). Di pasaran, MOL ini diperjual-belikan. Para petani biasa menyebutnya EM4 (Efektif Mikroorganisme No.4). Harga per botolnya 15-20 ribu ukuran satu liter. “Saya ajari cara membuatnya supaya ke depan tak harus membeli,” ujar pria kelahiran 12 Juni ini.

EM4 merupakan mikroorganisme lisensi Jepang. Sedangkan MOL berasal dari buah dan atau sayur busuk.

Cara membuat MOL ala Fadjar cukup sederhana. Pertama, 1/5 buah dan atau sayur busuk dimasukkan ke wadah botol plastik bekas. Jika sudah ada buah, tidak perlu menambahkan gula sebagai sarana perkembangbiakan bakteri. “Buah itu manis, jadi fluktosa (unsur gula) nya sudah ada,” tegasnya.

Jika terpaksa harus pakai gula, cukup pakai tetes tebu (limbah pabrik gula) yang harga per botolnya berkisar Rp 6 ribu – Rp10 ribu.

Langkah selanjutnya, wadah diisi air 3/5 bagian. Sisa, 1/5 bagian untuk udara. Terakhir tutup rapat botol itu. Biarkan proses fermentasinya selama 1-2 pekan. Perlu diperhatikan setiap tiga hari sekali tutup botol harus dibuka untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi. “Kalau tidak dibuka akan meletus seperti alkohol. MOL ini dapat digunakan untuk pupuk organik cair atau pestisida alami,” ungkapnya.

Cara pemanfaatannya, MOL cukup disemprotkan ke tanaman. MOL ini lah yang akan memicu senyawa pada tanah, sehingga berfungsi sebagai pupuk dan pestisida alami. Ilmu pertanian organik itulah yang dia ajarkan kepada mahasiswa lintas jurusan. Harapannya, para mahasiswa KUJ menularkannya kepada para petani di wilayah Jogjakarta maupun petani di daerah asal para mahasiswa. Ini menjadi langkah awal menyongsong Indonesia menuju pertanian organik 2019. “Saya selalu mendorong anak didik untuk menciptakan lapangan pekerjaan,” ungkapnya.

Kesehatan Fadjar yang semakin menurun tak menyurutkan tekadnya untuk terus membina anak didik KUJ yang kini berjumlah 56 orang. Setiap dua kali dalam seminggu, Fadjar harus menjalani cuci darah di Rumah Sakit Angkatan Udara Dr Harjolukito. Penyakit gula yang dideritanya pun telah membuat mata kanannya terkena katarak, sehingga tidak bisa melihat dengan jelas. “Apa yang saya rasakan hari ini sebagai penyemangat untuk terus hidup,” kata insinyur pertanian UPN Jogjakarta ini. (yog/mg1)