dr. Nur Muhammad Artha MSc Mkes SpA (RADAR JOGJA FILE)

DOKTER spesialis anak RSU Sakina Idaman dr Nur Muhammad Artha MSc MKes SpA menjelaskan, sindroma stunting merupakan gangguan pertumbuhan yang ditandai dengan retardasi pertumbuhan pada usia awal kehidupan seseorang. Dari berbagai penelitian, kata Artha, kurang lebih 165 juta anak di bawah 5 tahun mengalami masalah ini.

Dari kaca mata medis stunting merupakan proses siklik (berulang). Perempuan yang mengalami stunting pada masa kanak- kanak cenderung memiliki anak stunted.

“Stunting dihubungkan dengan peningkatan kecacatan dan kematian, penurunan perkembangan fisik dan perkembangan saraf, penurunan kapasitas ekonomi dan peningkatan risiko penyakit metabolik hingga masa dewasa,” paparnya.

Beberapa faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan anak pada 2 tahun pertama kehidupan, yaitu status gizi ibu, praktik pemberian makan, kebersihan dan sanitasi, frekuensi infeksi, dan akses ke tempat pelayanan kesehatan.

Menurut Artha, berdasarkan studi epidemologi, pemberian ASI dan makanan pendamping ASI yang tidak optimal, infeksi berulang, dan kekurangan mikronutrien merupakan determinan penting penyebab stunting.

Stunting juga bisa disebabkan kekurangan beberapa zat gizi mikro, seperti seng, kalium, dan magnesium.

“Tingginya prevalensi stunting pada balita menunjukkan bahwa populasi tersebut mengalami kekurangan gizi dalam waktu yang lama,” jelasnya. Faktor sosial ekonomi turut menjadi pemicu stunting dari segi pemenuhan asupan gizi berkualitas pada anak.

Lebih dari itu, dalam jangka panjang bisa menghambat perkembangan otak dan berdampak pada kemampuan kognitif dan prestasi pendidikan.

Kendati demikian, setiap orang bisa mengantisipasi terjadinya stunting pada keturunannya dengan beberapa tindakan. Dimulai sejak masa kehamilan. Ini harus diperiksakan secara teratur. Ibu hamil sebisa mungkin menghindari asap rokok dan memenuhi nutrisi yang baik selama masa kehamilan. “Ibu hamil yang mengalami kekurangan nutrisi menyumbangkan sekitar 20 persen kematian ibu dan meningkatkan risiko terjadinya stunting,” katanya.

Upaya lain berupa pemberian ASI ekslusif bagi bayi usia 0- 6 bulan dan ditambah makanan pendamping ASI untuk usia selanjutnya. Anak juga harus diikutkan dalam program imunisasi. Terutama imunisasi dasar.

Bayi baru lahir juga harus diperiksakan pertumbuhan dan perkembangannya secara rutin. Setiap bulan ketika berusia 0-12 bulan. Pemeriksaan dilanjutkan setiap 3 bulan ketika anak berusia 1-3 tahun. Selanjutnya setiap 6 bulan (3-6 tahun) dan setiap tahun bagi anak usia 6-18 tahun. (yog/mg1)