GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

BANTUL – Insiden terbakarnya gazebo dan mihrab musala Kantor Pimpinan Cabang Muhammadiyah Banguntapan Selatan tak luput dari perhatian Buya Syafi’i Maarif. Bekas Ketua Pimpinan Pusat Muhammdiyah ini menganggap insiden yang terjadi Minggu (11/3) lalu sebagai teror.

“Definisi teror itu sendiri perbuatan yang mengganggu ketenteraman dan menyebabkan kecemasan masyarakat,” jelas Buya di sela meninjau bekas gazebo terbakar Rabu (14/3).

Menurut Buya, insiden tersebut tak memicu efek trauma. Sebab, peristiwa terjadi saat area kantor PCM tak ada aktivitas. Padahal, sehari-hari lingkungan kantor PCM yang terletak di RT 03 Dusun Kepanjen, Jambidan, Banguntapan dimanfaatkan untuk pendidikan anak usia dini dan taman pendidikan Alquran. Kondisi ini berbeda dengan insiden di Gereja Lidwina Stasi Bedog Sleman beberapa waktu lalu. Aksi penyerangan terjadi saat misa.

Kendati begitu, Buya mewanti-wanti, polisi harus bisa menangkap pelakunya dalam keadaan hidup. Guna mengungkap motif dan jumlah pelaku. “Jangan disakiti atau dibunuh agar bisa diintrogasi,” pesannya.

Dalam kesempatan itu, sesepuh Muhammadiyah ini juga mengimbau masyarakat tidak membuat penafsiran sendiri. Apalagi, penafsiran tanpa didasari berbagai bukti kuat. Agar suasana tak semakin keruh. Yang perlu dilakukan adalah mendorong kepolisian untuk mengusutnya.

Sementara itu, Kasatreskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo menengarai ada unsur kesengajaan dalam insiden terbakarnya gasebo dan musala tersebut. Unsur kesengajaan terlihat dari sejumlah fakta yang ditemukan penyidik. Salah satunya, lokasi kejadian jauh dari sumber api.

“Bekas kebakaran (di musala) juga terpusat. Tidak melebar ke mana-mana,” jelas Angga sapaannya di sela menemui Forum Komunikasi Ormas dan Relawan DIJ di halaman Mapolres Bantul kemarin.

Sebagaimana diketahui, dua titik yang terbakar berbeda lokasi. Gazebo di luar bangunan utama, sedangkan musala di lantai dua kantor PCM yang berjarak sekitar belasan meter.

Kendati menyimpulkan ada unsur kesengajaan, Angga masih menunggu hasil pemeriksaan Tim Inafis. Hasil pemeriksaan ini salah satunya untuk mengetahui apakah ada bahan bakar yang digunakan. Sebab, sisa karpet, sajadah, dan sarung musala yang terbakar tak memendarkan bau jenis bahan bakar apa pun.

“Sementara terbakarnya gazebo diketahui saat hujan gerimis,” ucapnya.

Di sisi lain, penyidik mengalami kendala minimnya petunjuk. Tak satu pun dari delapan saksi yang diperiksa hingga kemarin melihat kejadian tersebut. Di sekitar lokasi kejadian juga tidak ada CCTV. (zam/yog/mg1)