DINAS KESEHATAN Kabupaten Sleman menyadari pentingnya media massa dalam penyebaran informasi. Termasuk menyangkut pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, upaya mendorong perbaikan kualitas pelayanan publik tidak dapat dipisahkan dari media massa.

“Berbagai jenis pelayanan publik bidang kesehatan perlu disosialisasikan kepada masyarakat melalui media,” ungkap Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dr Bambang Suharjana M.Kes Rabu (14/3).

Didorong kesadaran itu, dinas kesehatan mengadakan bimbingan teknis (bimtek) tentang jurnalistik bagi 25 orang peserta. Mereka berasal dari pengelola majalah Jendela Husada, website maupun unsur lain di lingkungan dinas kesehatan dan Puskesmas di Sleman. Bambang membuka secara resmi bimtek yang berlangsung dua hari 14-15 Maret 2018 di Rumah Makan Pecel Blora, Sleman.

Dikatakan, media massa yang saat ini dimiliki dinas kesehatan terdiri majalah dan website. Keberadaan media itu dinilai penting karena berisi beragam program kesehatan. Antara lain seperti kesehatan ibu dan anak, peningkatan gizi pencegahan dan pemberantasan penyakit. Lalu penyehatan lingkungan hingga pelayanan perizinan bidang kesehatan.

“Berbagai program kesehatan itu membutukan kemasan promosi yang menarik,” ungkap Bambang. Promosi kesehatan itu berisi tentang aktivitas dan inovasi dinas kesehatan dan UPT Puskesmas.

Kepala Seksi Promosi dan PKM Dinas Kesehatan Sleman Indah Nursanti menambahkan, media komunikasi publik yang dimiliki instansinya membutuhkan dukungan sumber daya manusia (SDM). Khususnya dalam aspek jurnalistik. Diharapkan, setelah mengikuti bimtek, para peserta mampu menyajikan informasi yang menarik dan dapat dipertanggungjawabkan.

Bimtek menghadirkan narasumber dari Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Sleman dan praktisi media. Agastya Dedy Kusuma yang sehari-hari mengelola media informasi di lingkungan Diskominfo Sleman mendapatkan giliran pertama sebagai pemberi materi.

Agastya banyak mengupas sejumlah praktik jurnalistik. Di antaranya menyangkut soal pengambilan dan pemilihan foto. Menurut dia, foto punya beberapa kelebihan. “Foto itu harus menarik, mengikat dan membuktikan. Visualnya harus menyentuh perasaan,” ulasnya.

Dikatakan, kualitas dalam foto jurnalistik bukan terletak pada kamera. Alasannya, kamera meski dilengkapi fasilitas yang canggih bukan satu-satunya. Kamera hanya menjadi alat. “Yang lebih penting yang memegang kameranya,” ingat staf Diskominfo Sleman ini. (*/kus/ila/mg1)