(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

KULONPROGO – Angka pernikahan dini di Kulonprogo masih tinggi. Berbanding lurus dengan tingginya kasus perceraian.

Pengadilan Agama (PA) Wates mencatat jumlah perceraian tersebut. Pernikahan dini kebanyakan disebabkan hamil sebelum nikah.

“Bisa dilihat dari jarak gugatan nikah dengan kelahiran anak yang cukup dekat,” kata Humas PA Wates Ummu Hafizah Kamis (8/3).

Pihaknya mengaku ironis dan dilematis. “Karena kami yang memberi dispensasi atau mengizinkan mereka menikah. Namun kemudian mereka minta diceraikan,” kata Ummu.

Permohonan menikah dini pada 2017 sebanyak 38 kasus. Sebanyak 25 persen di antaranya berakhir dengan gugatan cerai.

“Kami berharap saat memberi dispensasi tidak berakhir dengan perceraian. Namun mau bagaimana lagi? Menikah dini itu memang cukup rentan (berakhir dengan perceraian),” kata Ummu.

Jumlah perceraian di Kulonprogo pada 2016 mencapai 514 kasus cerai. Sebagian di antaranya resmi cerai dengan dibuktikan akta cerai. Rinciannya, 154 cerai talak (diajukan pihak suami) dan 360 cerai gugat (diajukan pihak istri).

Pada 2017 jumlah kasus cerai naik menjadi 564 kasus. Sebanyak 546 di antaranya resmi cerai (dibuktikan dengan akta cerai). Rinciannya, 160 (cerai talak) dan 404 (cerai gugat).

“Yang dimaksud resmi cerai dibuktikan dengan akta cerai itu karena ada juga sebagian kasus gugatan yang masuk dan berhasil dimediasi, gugur atau dicabut (dibatalkan),” kata Ummu.

Dilihat dari faktor penyebab perceraian, terbanyak disebabkan cekcok terus menerus. Meninggalkan salah satu pihak.

Selebihnya, suami atau istri pergi meninggalkan pasangan dan tidak tahu alamatnya. Kebutuhan ekonomi tidak dipenuhi, adanya pihak ketiga atau kesenjangan pendidikan serta penikahan dini.

“Upaya menekan perceraian sudah diupayakan dengan mediasi. Salah satunya memberi tenggat waktu berpikir 30 hari kerja. Kedua pihak diberi waktu untuk berkompromi. Dinegosiasikan sehingga batal cerai atau rujuk,” kata Ummu.

Mediasi selama 30 hari menjadi upaya menekan angka perceraian. Minimal jika harus tetap bercerai namun hak-hak mantan istri dan anak terpenuhi.

Kepala Bidang Permpuan dan Anak, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kulonprogo Woro Kandini mengatakan pernikahan dini rentan perceraian. “Ada kasus setelah menikah langsung pulang ke rumah orang tuanya masing-masing,” kata Woro. (tom/iwa/mg1)