(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

Lingkungan Jogja National Museum (JNM) beberapa hari ini ramai dikunjungi masyarakat. Tema kekerasan terhadap perempuan dan penyandang disabilitas menjadi isu utama dalam kegiatan yang digelar Kamis (8/3). Puluhan audiens tampak antusias mengikuti workshop itu. Satu di antaranya, Kompol Retnowati.

Seperti biasanya, Retno, begitu dia akrab disapa, jarang terlihat mengenakan seragam polisi. Sebagai polwan, perempuan yang sudah mengabdikan diri selama 31 tahun di Korps Bhayangkara ini lebih sering mengenakan busana kasual.

Perempuan berjilbab ini pun lebih mengesankan seperti ibu-ibu pada umumnya ketimbang seorang polwan. Tugasnya yang lebih banyak berurusan dengan perempuan dan anak membuatnya harus menanggalkan kesan angker. “Untuk penyidikan kasus terhadap anak-anak memang harus bisa tampil dan berperan sebagai seorang teman atau ibu,” kata Retno.

Selama dua tahun dipercaya menjabat Kanit PPA Polda DIJ, berbagai jenis kasus kekerasan perempuan dan anak sudah ditanganinya. Yang cukup berkesan, kasus yang menimpa FR. Bocah lima tahun yang menjadi korban kekerasan kerabatnya sendiri.

Kasus yang mendapat perhatian khusus Wakil DPD DIJ GKR Hemas ini, menurut Retno, cukup menguras pikiran dan tenaga. Bahkan, selama proses penyidikan Retno dituding telah memaksa korban untuk mengakui perbuatan tersangka.”Sekarang kasusnya sudah P21 (lengkap, Red),” jelasnya.

Ada pengalaman lain yang juga masih membekas di benak Retno saat bertugas di Polda Aceh sebelum 2010 silam. Menurutnya, pengalaman di Serambi Makkah itu cukup lucu. Ketika itu sejawatnya ada yang takut memeriksa para pelaku kejahatan yang merupakan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Sebagai Kanit PPA, Retno tetap harus menuntaskan perkara itu. “Kadang ada yang ketakutan, tapi mau tidak mau harus jalan terus,” ujarnya disertai senyum.

Perempuan kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, 50 tahun lalu ini menyimpulkan, kasus-kasus kekerasan rumah tangga terhadap perempuan banyak terjadi karena adanya pihak ketiga. Setidaknya itu berdasarkan pengalamannya sebagai penyidik kepolisian. Perselingkuhan paling sering menjadi persoalan yang berujung pada tindak kekerasan. “Ada juga suami pergi dari rumah dan tidak memberikan nafkah,” ungkapnya.

Guna mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak, tutur Retno, masyarakat memiliki peran penting. Setiap ada kecurigaan terhadap upaya kekerasan harus dilaporkan ke pihak berwajib atau kepolisian. Seperti kasus yang menimpa FR, justru pihak sekolah balita itulah yang memberikan laporan ke polisi. “Masyarakat harus peduli,” tegasnya.(yog/mg1)