PURWOREJO-Parang panjang yang biasa digunakan untuk merapikan pematang rumput di sawah disalahgunakan Amat Sapingi, 46 warga Desa Grantung, Kecamatan Bayan, Purworejo untuk menebas tangan Triyono, yang tak lain sepupunya, Rabu (28/2). Akibat kejadian itu, tangan Triyono patah dan tidak bisa beraktivitas normal.

Kasat Reskrim Polres Purworejo, AKP Kholid Mawardi mengatakan kejadian itu dipicu adanya rasa dendam dari pelaku terhadap korban. Adapun pemicunya adalah kegagalan Sapingi mengikuti program Prona untuk pensertifikan tanah warisan dari orang tuanya. “Sapingi menilai jika Triyono yang menjadi penyebab kegagalan ikut program itu,” jelas Kholid, Kamis (8/3).

Dari kegagalan itu, Sapingi yang berprofesi sebagai petani itu memiliki prasangka buruk terhadap korban. Puncaknya saat dirinya pulang dari sawah dan berpapasan dengan korban langsung mengayunkan parang rumputnya dan mengenai tangan Triyono. “Korban yang mengendarai motor saat bertemu dengan pelaku waktu pulang dari sawah langsung menghentikan dan menebaskan parangnya ke tangan korban,” imbuh Kholid.

Sabetan parang itu menyebabkan tangan kanan Triyono mengalami robek sepanjang 6 sentimeter dan harus mendapatkan perawatan dari medis. Amat Sapingi sendiri menyatakan jika kejadian itu spontan dilakukannya saat dirinya melihat Triyono. Dirinya mengaku emosi dan tidak berpikir panjang untuk menebaskan parangnya. “Parang itu memang biasa saya bawa ke sawah untuk membersihkan rumput di pematang sawah. Tapi saat pulang melihat Triyono saya langsung emosi dan mengayunkan begitu saja,” jelasnya.

Usai mengayunkan parangnya, Sapingi mengaku langsung melarikan diri. Dari kejadian itu, Sapingi disangkakan dengan Pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara. (udi/din/mg1)