SLEMAN – Perajin kerajinan di DIJ diharapkan berani berinovasi. Jogjakarta terkenal sebagai penghasil produk kreatif, sayangnya kurang memiliki daya saing karena cenderung malu untuk tampil.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIJ Tri Saktiyana mengungkapkan, sekitar 98 persen skala usaha di DIJ adalah industri kecil menengah (IKM) dan usaha kecil menengah (UKM). Baik dilihat dari aset, omzet, maupun tenaga kerja yang terlibat dan masih sedikit yang masuk skala besar.

Sebagai daerah Istimewa, lanjutnya, IKM/UKM Jogja berbeda dengan provinsi yang lain. DIJ bertumpu pada sektor ekonomi kreatif. Jika daerah lain bertumpu pada komoditas skala besar seperti tambang, hutan, dan sebagainya, DIJ tidak punya sumber alam yang memadai. Sehingga kreativitas harus didayagunakan untuk menghidupi perekonomian Jogja. Fashion mendominasi sektor ekonomi kreatif, disusul usaha mebel, dan kriya yang lain.

“Kalau manufaktur besar, tanahnya sempit, tidak punya pelabuhan besar juga. Pilihannya ya hanya produk kreatif,” jelas Tri saat ditemui Radar Jogja saat pembukaan Pameran Seni Kriya DIJ di Hartono Mall, Kamis (8/3).

Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X mendorong produsen kerajinan berani berinovasi. Menurutnya, produk UKM Jogjakarta memenuhi syarat ekspor. Tidak hanya dari segi desain, bahan baku juga sangat diperhatikan. Kualitas ini tentu menjadi pembanding untuk bisa bersaing dengan produk daerah lainnya.

“Langkah selanjutnya adalah mendatangkan para pembeli. Jogjakarta itu sentra produsen kerajinan yang menjadi target para pembeli. Dari segi harga tentu lebih bersaing karena langsung sentranya,” jelasnya.

Menurutnya sudah sewajarnya Jogjakarta menggelar sebuah pameran kriya. Konsep ini tidak hanya sekadar meniru konsep pameran di Jakarta. Sebagai wilayah produksi, pameran mampu membuka peluang pertemuan langsung antara pembeli maupun investor. Pameran tidak hanya ajang jualan, tapi lebih pada promosinya.

Kegiatan pameran yang menargetkan nilai order sebesar Rp 1,5 miliar ini bukanlah untuk retail sales, tapi mengutamakan promosi. Buyer akan bertemu langsung dengan perajin, bahkan bisa berkunjung langsung ke workshop untuk melihat proses pembuatan. Beberapa IKM/UKM yang kelas perputaran uangnya masih rendah, biasanya mengharapkan produknya laku saat itu juga, tak sedikit yang kecewa jika tidak laku. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang tujuan pameran untuk promosi.

Pameran Kriya 2018 ini merupakan inisasi dari Disperindag DIJ yang diikuti sekitar 74 IKM/UKM. (cr3/dwi/ila/mg1)