BANTUL – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah DIJ diperkirakan masih akan berlangsung hingga besok. Kendati demikian, bukan tidak mungkin hujan deras disertai angin kencang yang berpotensi menyebabkan banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang terus beralangsung hingga beberapa hari ke depan. Selain itu puncak Gunung Merapi yang dua hari lalu terpantau diguyur hujan lebat berpotensi menimbulkan kerawanan bencana. Berupa banjir lahar hujan di sungai-sungai berhulu puncak Merapi.

Ancaman bencana banjir lahar hujan memanjang dari wilayah Sleman hingga Bantul.

Warga yang tinggal di sekitar bantaran sungai diimbau untuk rutin memantau debit dan warna air. Potensi banjir kiriman bisa terjadi sewaktu-waktu bila wilayah Kabupaten Sleman dan Kota Jogja diguyur hujan deras. “Kalau air keruh dan debitnya meningkat langsung bersiap-siap mengamankan diri,” pinta Manajer Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Aka Luklul Firmansyah Rabu (8/3). “Di Bantul itu paling komplet potensi bahayanya jika terjadi cuaca ekstrem,” lanjutnya.

Beragam ancaman bahaya ini telah terjadi sejak dua hari terakhir. Aka mencatat sedikitnya 14 lokasi kejadian akibat cuaca ekstrem menerjang wilayah Bumi Projotamansari sejak Rabu (7/3). Tersebar di berbagai kecamatan. Seperti Banguntapan, Bambanglipuro, Pandak, Pleret, Bantul, Dlingo, dan Kasihan. Kejadian terbanyak berupa pohon tumbang. “Tadi (kemarin, Red) ada pohon tumbang di Jalan Bantul menimpa dua mobil,” ucap Aka mencontohkan.

Guna mengantisipasi jatuhnya korban jiwa, Aka mengimbau warga memerhatikan berbagai potensi bahaya di sekitarnya. Bila ada pepohonan rimbun, Aka menyarankan warga memangkasnya. Itu untuk meminimalisasi pohon tumbang akibat diterjang angin kencang.

“Bukan menebang. Hanya memangkas,” ingatnya.

Sementara bagi masyarakat yang berdomisili di kawasan perbukitan diimbau memerhatikan beberapa tanda potensi tanah longsor. Di antaranya, rekahan tanah dan munculnya aliran air baru di sekitar permukiman.

Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantana sebelumnya menyatakan, jika hujan deras berdurasi lama terjadi, warga harus waspada longsor. Terutama di wilayah Samigaluh atau Kalibawang, Kulonprogo. Disebutkan, daerah rawan longsor lain tersebar di wilayah Pathuk, Gunungkidul dan sepanjang Sungai Bomo dan Winongo. “Seluruh komponen penanggulangan bencana bisa ikut antisipasi terhadap fenoma alam,” tuturnya.

Terpisah, Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X tak henti-hentinya mengimbau warga Kota Jogja di bantaran sungai untuk mengubah posisi rumah. Menghadap sungai, bukan membelakanginya. Tujuannya, menghilangkan tradisi buang sampah di sungai, yang bisa menyebabkan pendangkalan dan berakibat banjir. “Intinya semua harus peduli menjaga lingkungan masing-masing,” tuturnya.

Bagi pemerintah kabupaten/kota di DIJ HB X meminta untuk selalu sigap. Setiap ada kerusakan akibat bencana harus segera didata untuk dilakukan perbaikan. Prinsipnya, kata gubernur, Pemprov DIJ siap membantu.(zam/bhn/dwi/yog/mg1)