JOGJA – Pembongkaran sebuah rumah kuno di Jalan Juwadi No 7, Kotabaru, Kota Jogja disesalkan warga dan pengurus wilayah setempat. Mereka khawatir kekhasan rumah kuno di kawasan cagar budaya (KCB) Kotabaru tersebut hilang. Meskipun rumah tersebut tidak termasuk bangunan cagar budaya (BCB) maupun bangunan warisan budaya (BWB).

Bangunan yang berada di depan SD Serayu itu kini tinggal menyisakan sisa puing bagian tengah. Tembok di sekililingnya sudah dirobohkan. Ketua RW 02 Kotabaru Atang Ponco Setiawan mengatakan, pembongkaran dilakukan dua minggu terakhir, tiap Sabtu dan Minggu. “Setelah itu ditutup seng,” ucapnya ketika ditemui di rumah kuno itu Rabu (7/3).

Menurut Atang, pada akhir November 2017 pemilik bangunan tersebut pernah mendatanginya untuk mengurus izin mendirikan bangunan (IMB) dan perizinan lain. Tapi oleh Atang diminta ke Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja untuk meminta rekomendasi karena rumah itu berada di KCB. “Sebulan berikutnya datang lagi sudah bawa rekomendasi dari dinas kebudayaan, katanya tidak masuk BCB. Tapi kalau mau dibongkar tidak boleh total. Harus disisakan satu ruangan,” paparnya.

Ketua LPMK Kotabaru Soegianto menambahkan, dari hasil penulusurannya, bangunan rumah tinggal tersebut didirikan pada 1917. Jika mengacu UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, rumah tersebut seharusnya layak sebagai BCB maupun BWB. Karena berusia lebih dari 50 tahun.

Rumah itu pun telah diajukan untuk mendapatkan status sebagai BCB atau BWB pada 2003 lalu. Bahkan pada 2012 LPMK Kotabaru sudah membuat penelitian 58 bangunan kuno di kawasan Kotabaru, yang layak dijadikan BCB atau BWB. “Penelitian resmi bersama Bappeda Kota Jogja, tapi ya tetap belum direspons (dijadikan BCB maupun BWB, Red),” ungkapnya.

Dari 58 bangunan kuno tersebut, rumah di Jalan Juwadi itu yang tidak terselamatkan karena terlanjur dibongkar. Padahal seharusnya layak dipertahankan sebagai penanda khas kawasan Kotabaru. “Kalau gubernur DIJ sudah menetapkan (Kotabaru) KCB, harusnya kan wali kota menindaklanjuti dengan menetapkan BWB,” sentilnya.

Ketua Rintisan Kelurahan Budaya Kotabaru Bagus Sumbarja turut mengingatkan pemerintah bahwa hilangnya salah satu bangunan kuno akan mengurangi ciri khas KCB Kotabaru. Apalagi jika penggantinya berupa bangunan yang sama sekali baru. “Harusnya dipertahankan, perlu ada penghargaan bagi bangunan kuno,” pesannya.

Koordinator Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja FX Harry Cahya meminta Pemkot Jogja dan Pemprov DIJ segera turun tangan dalam penataan KCB Kotabaru. Agar ke depan tak ada lagi pembongkaran bangunan kuno, meski bukan termasuk BCB maupun BWB. Sebagaimana yang terjadi pada rumah kuno di Kotabaru itu. Terlebih warga setempat telah memasukkan bangunan itu dalam daftar bangunan kuno yang layak dipertahankan.

“Jika ada temuan situs atau bangunan cagar budaya, masyarakat memang harus lapor ke pemerintah setempat. Ini diatur dalam UU Cagar Budaya,” katanya.

Terpisah Kepala Disbud Kota Jogja Eko Suryo Maharsono menyatakan, tidak semua bangunan kuno bisa dikategorikan BCB maupun BWB. Berdasar UU Cagar Budaya, syarat BCB di antaranya, berusia lebih dari 50 tahun, mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, atau kebudayaan, serta memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. “Jadi tidak bisa asal bangunan kuno dijadikan BCB,” ujarnya.

Mengenai rumah kuno di Kotabaru tersebut, Eko mengaku telah menerbitkan rekomendasi pembongkaran. Rekomendasi diterbitkan berdasarkan kajian Tim Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya (TP2WB) berupa gambar desain bangunan.

Arsitektur bangunan di wilayah Kotabaru sisi timur lebih banyak mengadopsi gaya kolonial dan artdeco. Makanya boleh dibongkar karena bukan termasuk BCB. Tapi bentuk bangunan baru di bekas rumah yang dibongkar harus sesuai dengan desain rekomendasi TP2WB. (pra/yog/mg1)