(GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA)

KULONPROGO – Angka pernikahan dini di Kabupaten Kulonprogo masih cukup tinggi. Berdasarkan data, dalam dua bulan terakhir sedikitnya ada 20 anak menikah sebelum waktunya. Melihat fenomena ini, Pemkab Kulonprogo terus berupaya melakukan upaya pencegahan dengan sosialiasi hingga ke tingkat desa.

Kepala Bidang Perempuan dan Anak, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kulonprogo Woro Kandini mengatakan, melalui Peraturan Bupati Kulonprogo Nomor 9 Tahun 2016 tentang Pencegahan Perkawinan, perkawinan anak hanya diperbolehkan Pengadilan Agama Kulonprogo jika telah mendapatkan rekomendasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) di Dinsos P3A.”Tahun 2018 per Januari ada 10 pasang yang mendapatkan rekomendasi dari kami. Fenomena pencegahan perkawinan usia anak di Kulonprogo sudah menjadi perhatian khusus hingga di tingkat desa,” kata Woro Rabu (7/3).

Dijelaskan, 10 pasang anak di bawah umur yang mengajukan perkawinan dan kini sudah menjalani pernikahan itu, akibat kehamilan tidak diinginkan (KTD). Artinya, 10 perempuan yang berumur di bawah 18 tahun itu mengalami kehamilan atas hubungan badan dengan pasangan yang juga di bawah umur.

“Kasus perkawinan di usia dini terjadi seperti menular pada generasi selanjutnya. Pola asuh orang tua yang putus sekolah dan kedewasaan prematur dinilai menjadi pemicu utama. Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) juga sering kali terjadi dalam perkawinan yang serba dipaksakan itu,” jelasnya.

Menurutnya, orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keinginan memanjakan diri sendiri akibat masih muda, juga menjadi pemicu. “Yang jelas, pola asuh tidak benar berpotensi membuat kesehatan baik fisik maupun mental anak terganggu,” ujarnya.

Kepala Puskesmas Sentolo II Chusnun Hendarto mengamini, pola asuh anak yang tidak benar akibat pernikahan dini juga berpotensi membuat anak mengalami gangguan gizi atau stunting. “Pasangan dini yang belum matang sering tidak tahu atau tidak sadar akan kebutuhan gizi anak. Bahkan saat bayi berada di dalam kandungan,” ucapnya.

Pendamping Rifka Annisa Kulonprogo Abdur Rohim mengungkapkan, berdasarkan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik, di antara perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun dan 25 persen menikah sebelum usia 18 tahun. Dampaknya gangguan kesehatan ibu dan anak, KDRT, kemiskinan, serta rendahnya kualitas sumber daya manusia.

“Di Kabupaten Kulonprogo kasus pernikahan usia anak pada 2015 mencapai 45 kasus, 2016 mencapai 41 kasus, dan 2017 mencapai 38 kasus. Tahun ini hingga Januari sudah ada 10 pasang. Meskipun terjadi penurunan, hal ini tetap menjadi cambuk segenap komponen untuk lebih meminimalisasi angka pernikahan usia anak,” ujar Rohim di sela Deklarasi Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak di Desa Karangsari, Kecamatan Pengasih. (tom/laz/mg1)