SLEMAN – Direktur Utama AirNav Indonesia Novie Riyanto menilai adanya New Yogyakarta International Airport (NYIA) sangatlah potensial. Utamanya dalam mendukung jalur penerbangan udara pulau Jawa sisi selatan. Terlebih saat ini jalur penerbangan sisi utara tergolong terpadat se-ASEAN dan nomor lima peringkat dunia.

“Melayani lintas pulau hingga benua dan antarnegara. Jalur dengan kode W45 sejatinya perlu alternatif jalur pengurai kepadatan. Adanya NYIA sangat tepat untuk mengisi slot sisi selatan jadi tidak tertumpuk di jalur utara saja,” jelasnya dalam Rakernas Indonesia Air Traffic Controller Association (IATCA)di salah satu hotel di Jogja, Rabu (7/3).

Kajian ini, lanjutnya, telah dilakukan untuk pengoptimalan jalur sisi selatan. Tidak hanya NYIA, sejumlah wilayah juga tengah mengembangkan bandara di kawasan selatan. Setidaknya untuk Jogjakarta, keberadaan NYIA mampu mendukung kinerja Bandara Adisutjipto.

Transportasi udara tidak hanya berbicara mengenai transportasi wisata. Dia mengungkapkan, jalur udara mulai diminati sebagai jalur perekonomian. Terbukti mulai tingginya jalur ekspedisi barang melalui udara.

AirNav mencatat setidaknya ada 300 bandara yang tersebar di Indonesia. Dari keseluruhan terdapat 2.000 personel yang bekerja di air traffic controller (ATC). Penambahan personel diproyeksikan antara 100 hingga 200 orang.

“Kenapa saya bilang sisi selatan penting karena persentase peningkatan antara 9 hingga 11 persen per tahunnya. Jawa tidak hanya regional, kawasan ini juga perlintasan benua sisi utara dengan Benua Australia, jadi sangat potensial,” katanya.

Direktur Navigasi Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana Banguninsih Pramesti mengungkapkan, ada peningkatan pelayanan pada 2017. Pada 2016 penilaian kualitas pelayanan navigasi udara hanya 56,3 persen. Pada 2017 melonjak jadi 86,4 persen, angka ini melampaui slot rata-rata global 60,7 persen. “Penambahan jalur setidaknya menjadi salah satu solusi peningkatan kualitas pelayanan navigasi udara,” jelasnya. (dwi/mg1)