PURWOREJO – Polisi masih mendalami kasus tewasnya pasangan suami-istri, Ratimin,45, dan Lilik,38, di Desa Semawung, Purworejo, Senin (5/3). Dugaan sementara, Ratimin tewas gantung diri setelah menghabisi nyawa istrinya menggunakan gagang cangkul.

Meski tak ada penuntutan dari keluarga korban, Kasatreskrim Polres Purworejo AKP Kholid Mawardi menyatakan tetap akan melakukan penyidikan sampai tuntas. Ditegaskan, penyidikan belum akan dihentikan hingga ada titik terang dalam pengungkapan perkara tersebut.

Sedikitnya lima warga Semawung telah dimintai keterangan hingga kemarin (6/3). “Ini jadi ‘PR’ kami untuk bisa menyimpulkan peristiwa yang terjadi pada Lilik dan Ratimin. Kami tak bisa menduga-duga,” ujarnya.

Selain memeriksa lima saksi, penyidik masih menunggu hasil otopsi RSUD dr Tjitrowardojo dan pemeriksaan medis tim Dokkes Polda Jawa Tengah terhadap pasutri tersebut.

“Kami juga masih mendalami barang bukti yang ditemukan di dekat lokasi kejadian,” ucap Kholid.

Adanya kabar bahwa Ratimin mengalami gangguan jiwa, Kholid tak mau menjadikan informasi tesebut semata-mata sebagai dasar penyidikan. Kebenaran mengenai hal itu, kata Kholid, penyidik akan melakukan kroscek di rumah sakit yang pernah merawat Ratimin.

Sementara itu, Sekeretaris Desa Semono, Bagelen Arismanto mengungkapkan, keluarga Lilik mengaku iklhas dan tak akan menuntut keluarga Ratimin. Informasi ini diperoleh Arismono saat bertandang di rumah kediaman Lilik. “Tadi siang (kemarin, Red) saya ke rumah keluarga Lilik. Mereka

menyatakan jika ini sudah suratan takdir dan keluarga bisa menerima,” ungkapnya.

Jenazah Lilik telah dimakamkan kemarin dini hari, sekitar pukul 01.00. Atau tak berapa lama setelah dipulangkan dari rumah sakit. Perlakuan terhadap jenazah Ratimin tidak jauh berbeda. Usai diotopsi, jenazah Ratimin juga langsung dimakamkan di pemakaman Desa Semawung, Kecamatan/Kabupaten Purworejo.

Ketua RT 1/RW 3 Desa Semawung Sugiman mengatakan, sesuai adat setempat warga menggelar tahlilan di kediaman keluarga seseorang yang meninggal. Hanya, untuk kali ini doa bersama diringkas dalam satu kegiatan. “Tahlilan sekali saja, sampai peringatan seribu hari,” katanya.

Meringkas prosesi adat doa bersama memang bukan hal lazim. Tapi, hal itu semata-mata demi adat tetap terlaksana. Lantaran tak ada lagi anggota keluarga Ratimin di Semawung. Satu-satunya yang masih tersisa hanya Tuminah, ibu Ratimin, yang lansia. Menurut Sugiman, Tuminah akan diboyong ke Banjarnegara oleh kakak Ratimin. (udi/yog/mg1)

GRAFIS: ERWAN TRI CAHYO/RADAR JOGJA