MUNGKID – Aksi penolakan terhadap penambangan bahan galian golongan C seperti pasir, kerikil dan batu, masih berlangsung di Kabupaten Magelang. Kali ini dilakukan warga dari Dusun Klatak, Selo Bendo, dan Macanan dengan mendatangi Balai Desa Banyudono, Kecamatan Dukun. Mereka menolak penambangan dengan alat berat di Sungai Pabelan.

“Kami dengan tegas menolak kegiatan penambangan yang menggunakan alat berat berkedok normalisasi Sungai Pabelan. Karena sumber air yang kami pakai untuk keperluan sehari-hari dan irigasi pertanian berasal dari aliran sungai itu,” ujar salah satu perwakilan warga, Bambang H, Selasa (6/3).

Masyarakat meminta aparat menertibkan penambangan dengan alat berat, demi lingkungan yang lebih baik. Karena penambangan yang sudah berjalan saat ini dinilai telah merusak kualitas air tanah dan lingkungan sekitar.

“Kegiatan penambangan telah memperburuk kualitas air, bahkan bisa mematikan sumber air yang mengalir ke tempat tinggal kami. Itu semua harus dihentikan,” tegasnya.

Kepala Desa Banyudono Nurhadi menerangkan, pihaknya tidak bisa berbuat banyak karena penambangan telah mengantongi izin amdal dan izin normalisasi sungai, yang turun sejak Januari 2018. Pihaknya hanya bisa menerima aduan dan memfasilitasi langkah mediasi yang mungkin bisa dilakukan oleh penambang dan warga.

“Pihak desa dalam waktu dekat akan memediasi antara pengusaha tambang dan warga terdampak. Bagaimana pun soal amdal dan izin normalisasi sungai sudah ada sejak Januari,” jelasnya.

Soal izin usaha penambangan, Nurhadi mengaku tidak tahu-menahu. “Kebijakan izin usaha tambang bukan ada pada kami. Bahkan untuk izin jalan yang akan dilalui truk pengangkut bahan galian golongan C itu dilakukan langsung secara personal ke pemilik lahan. Kami pihak desa tidak tahu menahu,” tegasnya.

Aksi damai itu mendapat pengamanan petugas dari Polsek Dukun yang dipimpin langsung Kapolsek AKP Dimas Bagus Pandoyo. Peserta demo pun bubar setelah memasang spanduk penolakan penambangan di sabo dam yang berada di Sungai Pabelan itu. (dem/laz/mg1)