MUNGKID – Ancaman bencana tanah retak terus menghantui warga di lereng Perbukitan Menoreh, Dusun Jetis, Desa Menoreh, Kecamatan Salaman. Lima bangunan rumah warga pun retak-retak. Diduga potensi bencana ini muncul berkaitan dengan tingginya intensitas hujan yang mengguyur kawasan ini waktu belakangan.

Dari lima bangunan rumah warga itu, tanah retak menyasar lantai bangunan rumah. Ada juga yang menyasar tiang rumah. “Awalnya keramik tiba-tiba pecah, seperti kejatuhan benda,” ujar Siami, salah seorang warga RT 6 RW 5 Dusun Jetis, Selasa (6/3).

Peristiwa keramik pecah berlangsung sekitar tiga minggu silam. Namun demikian, tanpa disangka, pecahnya keramik menjalar ke kemarik yang lain. Semakin hari retakan keramik semakin melebar. Bahkan ada keramik yang terangkat dan terlihat menganga. “Dengan intensitas hujan semakin menurun, retakan keramik juga tidak semakin melebar,” ungkapnya.

Selain keramik, tiang depan ruang tamu juga mengalami hal serupa. Bahkan tiang sudah agak miring posisinya. Hingga kemudian berdampak pada daun pintu rumah yang dibuka semakin berat.

Selama ini ia tinggal bersama keluarganya. Satu anak dan suaminya Wahono. “Khawatir iya, tapi sementara waktu ini menunggu saja. Berharap ada perhatian dari pemerintah,” jelasnya.

Dhesty Ayu, warga lainnya menambahkan, hasil dari pendataan terdapat lima rumah yang terdampak tanah retak. Kelima rumah itu milik Saroto, Wahono, Sujak, Bakir, dan Mulyono. Dari lima itu, tiga di antaranya retakan tergolong cukup parah karena lebar retakan mencapai sekitar 3 cm. “Tanah retak menjalar mengenai lantai dan dinding. Bahkan ada juga dinding rumah sampai melengkung,” jelasnya.

Sementara di sisi lain, di sungai kecil berjarak sekitar 500 meter dari retakan juga mengalami longsor. Sungai yang semula lebarnya sekitar 5 meter, menyempit hingga 3-4 meter. Itu diakibatkan karena salah satu tebing sungai mengalami longsor.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Edy Susanto mengaku sudah mendapatkan laporan adanya tanah retak di lereng Menoreh itu. Terdapat beberapa poin dari hasil kaji cepat retakan tanah oleh Satgas BPBD Kabupaten Magelang. “Adanya retakan tanah sepanjang sekitar 560 meter,” jelasnya.

Hasil kajian lain ada tiga rumah yang mengalami retakan pada bagian ubin dan tembok. Retakan bervariasai, ada yang lebar dan ada yang sempit antara 5-30 cm. Muncul juga tanah amblas di puncak rekahan.

“Satgas penanggulangan bencana mencoba memasukkan bambu sepanjang 0,5 m, lapisan bawah sudah muncul tanah jenuh (tanah bagian bawah berair). Tanah yang keluar berbentuk jenuh dan berbau menyengat,” ungkapnya.

Dari peristiwa itu, sudah didata terdapat 23 rumah yang terancam jika retakan longsor. Dari 23 rumah itu, dua rumah kosong dan lainnya masih berpenghuni. Setiap rumah berpenghuni satu hingga lima jiwa. Rumah-rumah itu total dihuni sekitar 75 jiwa. (ady/laz/mg1)