BANTUL – Para petani bawang merah di pesisir pantai selatan persisnya di Dusun Samiran, Parangtritis, Kretek patut bernapas lega. Ini menyusul peresmian pasar lelang, Selasa (6/3). Sebab, pasar lelang ini mampu memutus panjangnya mata rantai penjualan salah satu bumbu dapur tersebut.

“Sebenarnya sudah beroperasi musim tanam lalu. Tapi baru diresmikan sekarang,” jelas Ketua Kelompok Tani (Klomtan) Ngudi Makmur Kadiso di sela peresmian pasar lelang.

Dengan adanya pasar lelang ini, lanjut Kadiso, para petani dapat langsung melelang bawang merah. Tentunya dengan harga jual yang kompetitif sekaligus menguntungkan para petani. Sebab, peserta lelang diharapkan adalah para pedagang besar. Kadiso berharap, harga jual bawang merah naik 10 hingga 15 persen dibanding dengan metode penjualan konvensional.

“Paling tidak dengan harga jual di pasaran Rp 18.500 per kilogram seperti sekarang kami bisa menjualnya Rp 16.000,” ucapnya.

Biasanya, kata Kadiso, dalam metode konvensional ada mata rantai penjualan yang cukup panjang. Pertama, produk tanaman petani dibeli oleh pengumpul lalu disetorkan kepada pengepul. Kemudian, pengepul baru menjualnya kepada pedagang besar. “Biasanya kami hanya bisa menjualnya dengan harga Rp 14.000 per kilogram,” ungkapnya.

Disebutkan, ada 79 petani yang bernaung di bawah Klomtan Ngudi Makmur. Dengan total garapan lahan sekitar 35 hektare. Kadiso mengakui pada musim tanam lalu baru ada 10 persen petani yang memanfaatkan pasar lelang ini.

Kendati begitu, Kadiso optimistis seluruh petani bakal terbuka wawasannya sehingga melelang produk tanamannya. “Musim tanam lalu produksinya per hektare 12 ton. Kali ini mungkin naik 18 ton per hektare,” harapnya.

Ketua Tim Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Perwakilan DIJ Probo Sukesi mengungkapkan, pembangunan pasar lelang ini merupakan hasil kerja sama petani dengan BI. Kendati begitu, lahirnya pasar lelang ini melalui serangkaian pendampingan. Mulai pendampingan peningkatan kualitas dan kuantitas, pertanian yang ramah lingkungan hingga penataan tata niaga bawang merah.

“Pendampinganya selama tiga tahun,” ujarnya.

Dia mengatakan, keseriusan berbagai persiapan ini bukan tanpa sebab. Menurutnya, hal tersebut berujung pada peningkatan kapasitas perekonomian daerah. Sebab, bawang merah salah satu produk pertanian yang paling berpengaruh terhadap inflasi. (zam/ila/mg1)