Mangga pinarak…,” sapa Sutanti kepada Radar Jogja yang menyambangi kediamannya Selasa (6/3). Sambil mempersilakan masuk, Sutanti merapikan beberapa kursi plastik kecil. Tak lama kemudian, roti dan minuman hangat pun disuguhkannya.

Rumah Sutanti terletak di salah satu gang sempit di Kampung Jetis Pasiraman. Di ruang depan rumah sederhana inilah Sutanti memajang hasil karyanya. Di sepanjang dinding ruang tamu terpajang wayang sulam karyanya yang digarap selama lebih kurang enam tahun.

Perempuan 52 tahun ini sehari-hari sebagai ibu rumah tangga. Namun siapa sangka, Sutanti memiliki kesibukan yang cukup lumayan untuk sekadar mengisi waktu luangnya. Bukan saja sebagai pemandu di Kampung Wisata Cokrodiningratan. Membuat wayang sulam adalah kesibukan utamanya. Bukan sekadar untuk mengisi waktu senggang.

Sutanti membuat wayang sulam bukan semata-mata untuk kepentingan komersial. Lebih dari itu, sebagai wujud kecintaannya terhadap warisan budaya nenek moyang. Lewat wayang sulam pula Sutanti nguri-uri budaya adiluhung itu.

Kemampuan menyulamnya mulai terasah saat Sutanti mengikuti kursus di Hotel Mustokoweni pada akhir 2012 silam. “Saya memilih sulam wayang karena unik dan sangat jarang di Jogjakarta,” tutur Sutanti sambil menunjukkan beberapa karyanya.

Membuat wayang sulam memang bukan pekerjaan mudah. Sutanti butuh waktu selama setahun hanya untuk mempelajari teknik dasar penyulaman. Hal tersulit adalah teknik penusukan jarum. “Tapi Alhamdulillah, dengan belajar tekun semakin lama lebih mudah,” ungkap Sutanti yang hanya tinggal berdua bersama suaminya.

Meski lahir dan dewasa di Wonogiri, Jawa Tengah, Sutanti lebih tertarik menyulam pakem wayang khas Jogjakarta. Dia mendapatkan pakem gambar wayang dari pembuat wayang asal Bantul bernama Sagio. Dari sketsa gambar dari Sagio, Sutanti tinggal mengkreasikan sendiri dengan teknik penyulaman. Kini Sutanti tak hanya membuat sulaman wayang tradisional. Dia berinovasi dengan membuat lukisan kontemporer dengan teknik sulam.

Dalam setiap karyanya Sutanti biasa menggunakan tiga jenis benang, yakni DMC, diamond, dan rus. Untuk media sulam digunakan kain dril, blaco, tenun, dan linen. “Supaya hasilnya bagus kain untuk kanvas memang tak boleh sembarangan,” lanjutnya.

Sejauh ini tak ada kesulitan dialami Sutanti saat menyulam. Hanya, membuat gunungan yang dirasakannya paling sulit dan butuh waktu lama. Karena selain banyak kombinasi warna yang rumit, gambar gunungan sangat variatif. Ini mempengaruhi tingkat kesulitan dalam menyulamnya. “Kalau tak ada waktu luang rasanya jadi lama saat menyulam. Karena sulaman harus sesuai gambar pakemnya,” tutur Sutanti, yang setiap hari butuh waktu empat jam untuk menyulam. Lebih dari empat jam, Sutanti mengaku tak kuat lagi. Sehingga pekerjaan membuat wayang sulam dilanjutkan keesokan hari. Begitu seterusnya hingga karya wayang sulam selesai. Untuk menambah estetika, wayang sulam dipasangi pigura sebagai hiasan dinding rumah. (yog/mg1)