Di kaki Gunung Merapi, ke mana saja mata memandang akan kita saksikan lahan sawah menghijau (saat musim hujan). Sawah dibentuk berteras, tiap petak sudah diatur aliran air masuk dari atas demikian pula aliran ke petak di bawahnya.

Tiap petak sawah menerima aliran air dari petak di atasnya dan membuang ke petak di bawahnya. Bila diperhatikan, menanam padi dengan sistem lahan basah tersebut memanfaatkan aliran air dengan sistem grafitasi. Menanam padi di sawah, sebetulnya berada di air yang mengalir ke bawah.

Sistem lahan basah bukan dengan memasukkan air dan menghentikannya di lahan sawah. Kalau air tidak mengalir, tanaman padi tak akan tumbuh subur dan bisa membusuk karena kekurangan oksigen yang dialirkan bersama air. Bandingkan dengan saat terjadi air bah, semua padi yang mulai menguning justru akan mati karena tumbuhan itu kekurangan suplai oksigen dan tak punya daya untuk tumbuh (Jawa: bacek).

Sistem bertani teknik lahan basah, sebetulnya mempunyai tujuan lain. Yakni, sebagai cara untuk menahan air hujan agar tak cepat melaut dengan ditahan di petak lahan sawah. Tentu saja, di samping air mengalir ke bawah tetapi sebetulnya juga merembes ke dalam tanah dalam jumlah yang sangat besar. Tiap batang padi yang ditanam di sawah butuh air yang mengalir sehingga sangat cocok dengan tujuan untuk menyimpan air hujan yang turun di lereng dan kaki Gunung Merapi.

Berapa kalkulasi penyerapan air hujan ke dalam tanah per hektare lahan sawah? Cara menghitungnya, tuangkan air 100 ton (25 truk ukuran 4 ribu liter) pada lahan persawahan dengan luasan 10 ribu meter persegi, lalu hitung berapa menit air terserap ke dalam tanah. Jika dalam 1 jam air itu lenyap, kita bisa menghitung berapa besar kapasitas sistem tanam padi lahan basah dalam memberikan kontribusi airasi tanah bagi kawasan perkotaan.

Sebanyak 25 truk air yang ditumpahkan ke lahan sawah itu akan merembes ke bawah dan mengalir mengikuti kontur tanah. Tentu saja hasil hitung di setiap lereng gunung akan berbeda-beda pula, karena struktur tanah pun tidak sama.

Air tanah menjadi penyangga kehidupan semua makhluk yang hidup di atas tanah. Bilamana tak tersedia air tanah, permukaannya pun akan menjadi gurun pasir yang tak berair. Sistem tanam padi yang dikembangkan di lereng dan kaki Gunung Merapi, ternyata memberi kontribusi airasi tanah yang sangat besar perannya bagi wiayah di bawahnya. Artinya, jutaan kubik air tanah disuplai masyarakat pemilik lahan sawah di kaki dan lereng Gunung Merapi buat mengisi perigi atau sumur artesis bagi warga kota.

Sebetulnya melalui air pula semua unsur yang dibutuhkan bagi kehidupan itu dialirkan. Tanpa air, semua tumbuhan tidak punya instrumen untuk membawa unsur hara dari akar sampai ke semua elemen tumbuhan. Begitu pula tanpa air, kebutuhan nutrisi tidak akan sampai ke seluruh organ tubuh manusia.

Dengan kata lain, air menjadi unsur vital dalam kehidupan di bumi yang telah disiapkan secara alamiah melalui mekanisme alam yang terdistribusikan dengan merata. Kekuatan gravitasi bulan sebagai bandul abadi menjadikan bumi berputar pada porosnya dan sekaligus menggerakkan arah perputaran bumi sehingga tercipta pancaran radiasi sinar matahari yang relatif merata dalam daur yang berulang dengan tepat waktu.

Alam pula lah yang menciptakan musim, iklim, cuaca, dan arah pergerakan angin, sehingga air dapat tersebar ke mana-mana dan dapat terbentuk kehidupan di atas bumi. Sungguh aneh bila mekanisme sistem yang dibentuk oleh alam tersebut, tidak dimanfaatkan dengan cerdik, justru oleh manusia yang diberikan kekayaan alam melimpah.

Air hujan yang jatuh di permukaan daratan sering kali dibiarkan mengalir kembali ke lautan. Manusia hanya bergantung dengan alam dan hanya bisa mengeluh kalau alam sedang tak ramah. Saat kemarau panjang mengeluh kekurangan air. Saat musim hujan pun mengeluh karena banjir dan air bah.

Menangkap air hujan itu memang bisa dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya: menjaga hutan dan memperbanyak vegetasi adalah cara menangkap hujan yang paling konvensional. Alternatif lain seperti bertanam padi dengan teknik lahan basah, yang sudah lama dikenal sejak zaman Mataram baru. Ketika ilmu teknik bangunan air semakin maju, muncul lah teknik bendungan untuk menangkap air hujan sekaligus menyimpannya sebagai cadangan air untuk irigasi.

Tetapi, saat penduduk bertambah banyak dan permukiman menjamur di mana-mana dan merambah area tangkapan hujan, tetap saja tak muncul kreativitas bagaimana menyimpan air hujan di kawasan perumahan. Orang terlalu banyak mengeluh tetapi tidak pernah ikut berbuat untuk menangkap air hujan yang jatuh di rumahnya masing-masing.

Padahal, seharusnya, setiap luasan lahan yang dimiliki oleh setiap kavling tanah itu mampu menyimpan air hujan dalam jumlah yang sangat besar. Tiap kavling tanah akan disiram air dalam jumlah yang sama pada area tengah bulak sawah. Kenapa tak didorong permukiman pun sebagai kawasan penangkap air hujan dengan menciptakan kawasan hunian yang ramah air hujan?

Air hujan yang turun di sebuah rumah pun dapat tersimpan di bawah bangunan rumah, di bawah taman, atau di bawah gang kecil di muka rumah yang dengan cepat merembas di antara pori-pori kavling rumah. Ibarat kita punya botol yang sudah terisi pasir penuh, tetap saja bisa dimasuki air yang mengambil ruang kosong dalam botol. Di setiap pekarangan rumah ang mempunyai lokasi simpan air yang bagus, air periginya tak akan pernah menyusut. Alam telah mengajarkan bagaimana hidup bersesuai dengan lingkungan manusia tinggal dan bersosial.

Alam akan memberi perigi yang penuh air kalau setiap bale somah rajin mengisi, dengan air hujan yang jatuh ke halaman kavling rumahnya. Caranya pun sangat mudah, alirkan air yang jatuh di atap rumah ke sumur resapan dengan diameter 1 meter dan kedalaman 3 atau 4 meter. Dan, itu hal yang sangat mudah dan mendasar, tetapi memang malas untuk melalukannya. (*/amd/mg1)