PURWOREJO – Masyarakat di pinggiran Jalan Daendels, Purworejo, tepatnya di Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, mengembangkan jambu kristal sebagai salah satu usahanya. Tidak hanya itu, mereka mengembangkan kawasan budidaya buah sebagai salah satu destinasi wisata.

Setidaknya usaha itu dikembangkan sejak tiga tahun terakhir pasca meredupnya budidaya pepaya yang terserang penyakit. Lebih cepat berbuah, jambu kristal saat ini menjadi salah satu andalan pendapatan petani.

“Potensi jambu kristal cukup baik. Selain itu, jambu ini juga keunggulan yakni tidak ada bijinya,” kata Wagirun, 41, salah seorang petani kemarin.

Dikatakan Sutarman, dibandingkan dengan pepaya, pengembangan jambu kristal relatif mudah karena lebih kuat. Selain itu, masa panen buah lebih cepat.

“Kalau pepaya agak lama dan pohonnya kurang kuat, sedangkan jambu kristal di usia enam bulan setelah tanam sudah bisa mulai berbuah. Memang di awal butuh perhatian agar bisa tumbuh dengan baik. Tapi kalau sudah tumbuh, perawatannya mudah,” jelas Sutarman.

Dikatakan, harga jambu kristal per kilogramnya cukup baik yakni di kisaran Rp 10.000-Rp 15.000. Hanya saja, petani masih terpaku dengan harga tersebut karena selama ini buahnya lebih banyak diambil oleh tengkulak. “Belakangan ini memang ada pembeli yang datang ke kebun langsung. Ini sangat menguntungkan kita,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Jayakatwang Desa Ketawangrejo Sugiyono mengungkapkan, adanya pengembangan jambu kristal di wilayahnya menjadi salah satu unggulan kegiatan wisata di Pantai Ketawangrejo. Selama ini jika ada paket wisata ke pantai akan diarahkan juga mengunjungi lokasi pengembangan yang tidak jauh dari pantai.

“Ada sekitar 50 petani yang tergabung dalam pokdarwis Jayakatwang yang mengembangkan jambu kristal ini. Prospeknya sangat bagus karena mengunjungi kebun itu bisa dilakukan di sela menunggu waktu terbenamnya matahari,” kata Sugiyono. (udi/laz/mg1)