SLEMAN – Pada bulan Maret curah hujan di Jogjakarta cenderung menurun. Berdasarkan data Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta, curah hujan Maret 200-400mm/bulan. Sebelumnya, curah hujan 300-500 mm/bulan.

Kepala Data dan Informasi Staklim BMKG Djoko Budiono mengatakan puncak musim penghujan telah lewat. Namun masih dimungkinkan munculnya hujan skala ringan hingga lebat.

“Perlu diwaspadai angin kencang saat hujan. Biasanya terjadi sebelum atau saat akan hujan. Awan cumulonimbus (cb) selain menghasilkan hujan lebat juga petir dan angin kencang,” kata Djoko Senin (5/3).

Kecepatan angin akibat awan cb mencapai 20 knot atau 37 km/jam. Bisa meningkat jika ada perbedaan tekanan udara. Kondisi ini paling banyak terjadi siang, sore hingga malam.

Fenomena lainnya adalah suhu udara panas. Penyebabnya adalah posisi matahari ada di kisaran garis ekuator. Temperatur udara tinggi diprediksi hingga akhir Maret.

“Suhu udara di Jogjakarta bagian utara mencapai 22 hingga 32 derajat celsius. Sedangkan kelembapan udara 64 hingga 95 persen,” ujar Djoko.

Sementara itu, hujan disertai angin kencang menyebabkan sejumlah pohon roboh. Pohon roboh terjadi di Jalan Perumnas, Mundu, Caturtunggal, Depok Sleman. Terjadi sekitar pukul 14.25.

Sejumlah akses jalan umum tertutup. Jaringan listrik sempat terputus karena tertimpa pohon. Toyota Avanza AB 1762 DY mengalami rusak berat. Tidak ada korban jiwa. (dwi/iwa/mg1)