JOGJA – Belum lagi tuntas siapakah pemilik yang sah atas tanah calon bandara baru di Kulonprogo, apakah ahli waris GKR Pembayun, putri raja Surakarta Susuhunan Paku Buwono X dengan GKR Emas ataukah Kadipaten Pakualaman, muncul masalah hukum yang baru.

Suwarsi dkk yang telah menggugat KGPAA Paku Alam X ke Pengadilan Negeri Jogja karena merasa memegang bukti eigendom (sertifikat hak milik) sebagai ahli waris Pembayun justru diadukan ke Bareskrim Mabes Polri. Suwarsi dkk dituding telah membuat keterangan palsu dengan mengaku-aku sebagai ahli waris Pembayun.

“Mereka ahli waris abal-abal,” tuding BRM Munier Tjakraningrat, salah satu ahli waris Pembayun yang mengklaim sebagai keturunan yang asli saat menggelar keterangan pers di hotel Core Jogja, Senin (5/3).

Munier adalah salah satu anak Pembayun dari pernikahan dengan Bupati Sumenep, Madura Muhammad Sis Tjakraningrat. Sedangkan Suwarsi dkk adalah anak Pembayun yang menikah dengan Wugu Harjosutirto dari Kadipaten Madura. Pembayun versi Suwarsi meninggal pada 2011 dan dikebumikan di makam Desa Gawanan, Colomadu, Surakarta. Adapun Pembayun, ibunda Munier wafat pada 1987 dan dimakamkan di Imogiri. Meski ada dua Pembayun, dalam silsilahnya mereka sama-sama mengaku anak dari Malikoel Koesno atau Paku Buwono X dengan GKR Emas atau GRAj Moersoedarinah, Putri Sultan HB VII dari Keraton Jogja.

Munier mengatakan, sebelum melapor ke Bareskrim lebih dulu mengadakan penyelidikan selama setahun. Dari penyelidikan tersebut ditemukan Suwarsi dkk memang bukan ahli waris Paku Buwono X.

Munier dan keluarganya kemudian melaporkan tindak pemalsuan dokumen silsilah Keraton Surakarta tersebut ke Barreskrim Mabes Polri di Jakarta.

Laporan dilakukan karena sejumlah laporan yang sudah dibuat ke Polres Kulonprogo setahun lalu cenderung jalan di tempat dansetempat.

Munier menambahkan, selain Suwarsi, sejumlah orang yang dilaporkan terkait dugaan pemalsuan dokumen tersebut antara lain Agus Sutono, Sukarno Wahyu Hartono, Eko Wijanarko dan lainnya. Mereka diketahui bukan merupakan ahli waris dan keturunan Keraton Kasunanan Surakarta karena nama-nama mereka tidak diketemukan dalam silsilah asli di keraton.

Mereka diketahui hanyalah orang biasa yang mengaku-aku sebagai keluarga Keraton Surakarta.

Dalam gugatannya Suwarsi dkk mengaku sebagai ahli waris GKR Pembayun.

Munier berharap Mabes Polri bertindak cepat mengusut kasus ini. Pihaknya juga optimistis upaya pelaporan ini segera diproses tanpa harus menunggu putusan perkara perdata yang sedang berlangsung di PN Jogja.

Terpisah, penasihat hukum Suwarsi dkk, Prihananto mengatakan, kliennya tak gentar dilaporkan. Dia menegaskan, kliennya punya bukti kuat sebagai keturunan Paku Buwono IX dan GKR Emas yang melahirkan Pembayun alias Waluyo alias Ratu Kedhaton.

“Bukti silsilah dikuatkan dengan nazab Raad Igama Surakarta atau Pengadilan Agama Surakarta 12 September 1943. Suwarsi adalah putri Pembayun yang menikah dengan Wugu. Bukti itu juga telah dilegalisasi oleh Pengadilan Agama Surakarta. Artinya bukti itu cukup kuat dan diakui negara. Nanti ketahuan siapa yang sebenarnya abal-abal,” katanya.

Prihananto balik bertanya apakah Munier dan saudara-saudaranya punya bukti nazab seperti yang dikantongi kliennya. (sky/kus/mg1)