GRAFIS: ERWAN TRI CAHYO/RADAR JOGJA

PURWOREJO – Tuminah,80, tampak begitu syok saat mendapati anaknya, Ratimin,48, tewas tergantung di dalam kamar sekitar pukul 10.30 Senin (5/3). Ketika itu, warga RT 02/RW 03, Desa Semawung, Kecamatan/Kabupaten Purworejo tersebut bermaksud menyuruh Ratimin makan. Saat masuk ke kamar Ratimin, Tuminah melihat tubuh anaknya tergantung dengan leher terjerat tali tambang plastik oranye.

Tuminah pun sontak berteriak minta tolong. Tak berapa lama datanglah seorang tetangganya, Chamdir,64. Mendapati kejadian tersebut Chamdir lantas menghubuni perangkat desa setempat, yang kemudian diteruskan ke kepolisian.

“Kami langsung cek ke tempat kejadian perkara (TKP) setelah mendapat laporan itu,” ujar Kasatreskrim Polres Purworejo AKP Kholid Mawardi.

Penyidik lantas mencari Lilik, istri Ratimin, untuk dimintai keterangan. Lilik tinggal di Desa Semono, Bagelen. Saat penyidik mendatangi rumahnya, Lilik tak berada di tempat. Upaya pencarian Lilik lantas dilanjutkan di TKP. Naluri penyidik benar adanya. Lilik ditemukan di kolong tempat tidur di dalam kamar Ratimin. “Tubuh Lilik terbungkus dua karung beras warna putih. Saat ditemukan sudah meninggal,” kata Kholid.

Petugas inafis menemukan adanya luka memar dan bercak darah kering di wajah Lilik. Pundak perempuan ini juga lebam. Kholid menduga Lilik mengalami tindak kekerasan. Pihaknya masih menyelidiki keterkaitan kematian Lilik dan suaminya. Kabar yang beredar di masyarakat, Ratimin bunuh diri setelah menghabisi nyawa istrinya. Kendati demikian, polisi belum membuat kesimpulan motif di balik tewasnya Lilik dan Ratimin.”Kami masih kembangkan kasus ini,” ujarnya.

Dari TKP, polisi mengamankan barang bukti berupa gagang cangkul sepanjang satu meter dengan bercak darah, tali tambang, sandal, kaos minil Ratimin, handphone, dan buku tes kehamilan, serta dua karung beras.

Sementara itu, tokoh masyarakat Semawung, Suyatno, mengungkapkan bahwa Ratimin memiliki riwayat gangguan jiwa yang belakangan ini kerap kambuh. Bahkan, Ratimin pernah membawa ibunya ke rumpun bambu yang berjarak 25 meter dari rumahnya, kemudian ditelanjangi. “Katanya ada buto ijo akan menyerang dan ibunya harus diselamatkan,” ungkapnya. Sejak Oktober 2017 Ratimin dan Lilik kerap terlihat cekcok karena masalah ekonomi.

Sementara itu, suasana di Dusun Sucen, Semawung, Kecamatan/Kabupaten Purworejo tadi malam masih tampak redup dan senyap. Terutama di rumah Ratimin. Hanya tampak beberapa warga yang terlihat di luar rumah pasca kasus tewasnya Ratimin dan istrinya. “Pribadi Ratimin memang tertutup. Dia tak banyak berinteraksi dengan tetangga. Bu Tuminah pun lebih banyak berada di dalam rumah karena faktor usia,” ungkap Sugiyanto,52, sepupu Ratimin.

Menurut Sugiyanto, usia pernikahan Ratimin dengan Lilik belum begitu lama. Keduanya menikah pada Desember 2017. “Ratimin kenal dengan istrinya dari kenalannya di desa lain,” ucapnya.

Dikatakan, Ratimin tercatat pernah menikah dengan gadis asal Banjarnegara pada 2009. Namun, pernikahan itu berantakan karena Ratimin diketahui mengalami gangguan jiwa. “Istrinya itu pernah ke sini setelah menikah. Tapi hanya sehari, setelah itu tidak pernah datang lagi sampai sekarang,” jelas Sugiyanto
Lahir sebagai bungsu dari 5 bersaudara, Ratimin tinggal dengan ibunya. Kesehariannya menggarap sawah milik orang tuanya. Sementara kebutuhan keseharian keluarga itu disuplai oleh anggota keluarga yang lain.

Sugiyanto mengatakan, kasus gantung diri di keluarga Ratimin bukan pertama kali terjadi. Dulu, kata dia, Ratiyo, kakak Ratimin, juga meninggal dengan cara serupa sekitar 20 tahun lalu.

Sementara hingga tadi malam Tuminah masih syok, sehingga tak bisa dimintai keterangan. Oleh para tetangga dia diungsikan di rumah anak iparnya. Sementara rumah Ratimin dibiarkan tak berpenghuni. Para tetangga pun tak bisa menggelar tahlilan karena jenazah Ratimin dan Lilik masih diotopsi di RSUD dr Tjitrowardojo.(udi/yog/mg1)