Pernah mendengar dongeng tentang Gulliver dan liliput dari Inggris? Atau kisah Rapunzel dan putri-putri lain yang hidup di kastil? Ya, Inggris dengan keindahan kastil-kastilnya hingga kisah Pangeran William dan Kate Middleton bak kisah dongeng di dunia nyata.

Negeri Ratu Elizabeth ini pun menjadi tujuan Rona Mentari, seorang pendongeng muda Indonesia untuk menimba ilmu. Ia mengambil studi pendek di International School of Storytelling of Emerson College, Sussex Timur, Inggris.

Lulusan Jurusan Komunikasi Universitas Paramadina ini sangat bangga menjadi murid pertama yang berasal dari Indonesia di Emerson College. Selain Rona, ada 18 orang dari negara lain seperti Spanyol, Belgia, india, Selandia Baru, Kanada, dan Amerika Serikat.

Tema studi yang sedang dipelajari Rona saat ini adalah story telling beyond words. Tidak hanya storytelling yang sifatnya performance, tapi juga belajar lebih dalam tentang dunia cerita, tentang diri sendiri, dan lingkungan. “Jadi, not just the words that coming from our mouth, tapi sebaik-baiknya keseluruhan cerita itu,” katanya pada Radar Jogja Minggu (4/3).

Mahalnya biaya studi ini bagi Rona bukan menjadi beban baginya. Karena dia mendapatkan beasiswa unggulan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Beasiswa ini sejatinya dapat diakses oleh semua warga Indonesia dengan memenuhi syarat dan prosedurnya.

Di Inggris, storytelling juga sudah jadi bagian dari budaya masyarakatnya. Rona melihat mereka sadar betul bahwa storytelling bisa jadi media untuk apapun. Bahkan penyembuhan, trauma healing misalnya. Gadis 25 tahun ini sangat bersyukur bertemu segelintir orang dari seluruh dunia yang masih menyadari pentingnya storytelling. Mereka bersedia jauh-jauh Inggris untuk mendalami ilmunya.

Rona mengikuti studi ini sebagai bentuk tanggung jawabnya atas pilihan menjadi juru dongeng atau storyteller. “Aku sudah fokus di story telling. Nah aku mau bertanggung jawab atas pilihanku. Salah satu bentuk tanggung jawabku ya terus belajar,” tegasnya.

Menurutnya, kita harus bertanggung jawab dan memastikan bahwa apa yang seseorang pilih tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tapi juga orang-orang di sekelilingnya.

Rona memulai keseriusannya dalam bidang ini dengan membentuk komunitas dongeng bernama Rumah Dongeng Mentari (RDM) di Jogja sejak 2010. Ia ingin memopulerkan kembali dongeng sebagai budaya bertutur di Indonesia. Acara unggulan RDM yang rutin digelar setiap tahun adalah Jogja Storytelling circle (JOYcircle) dan Awicarita Festival. Di acara ini, dia menggandeng para pendongeng dari dalam dan luar negeri.

Selain RDM, Rona juga menginisiasi Dongeng.TV. Ini adalah sebuah kanal YouTube yang menyuguhkan video-video mendongeng.

Setelah selesai studi ini, dia belum punya rencana selain hanya akan fokus belajar. “Rencana ke depan mau gimana aku nggak ngerti. Belum kepikiran. Yang jelas, ini nggak cuma buat aku, gitu,” ungkapnya.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Rona ke luar negeri untuk urusan dongeng. Di tahun 2014 silam, dia pernah menjadi satu-satunya pendongeng Indonesia di Sydney International Storytelling Conference.

Segudang prestasi dan pengalaman lainnya adalah Storyteller selected: Sydney International Storytelling Festival (2014). Kemudian Storyteller guest: Wellington’s Storytellers Cafe – Welcoming Summer, Wellington, New Zealand (2012). Partisipan Asean Young Leaders Summit 2015, Kuala Lumpur. Pengisi Dongeng “Rona Ramadhan” program, Jawa Pos TV (2016). Storyteller participant: Singapore International Storytelling Festival (2013). Dubber Film “Sahabat Pemberani” serial, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) (2013). (din/mg1)