SLEMAN – Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Jogjakarta (UIN Suka) segera mengambil tindakan terkait viralnya foto puluhan mahasiswi dengan membawa bendera HTI di depan masjid kampus setempat.

Setelah melakukan pendataan mahasiswa yang diduga bergabung dengan HTI sejak 28 Februari lalu, tercatat ada 41 mahasiswi yang diduga mengikuti organisasi yang dilarang oleh pemerintah itu.

“Saat ini mereka sudah menjalani konseling, tidak hanya satu kali saja, sistemnya akan terus menerus sampai mereka tidak terpengaruh lagi masuk ke organisasi tersebut,” ujar Rektor UIN Suka Yudian Wahyudi ditemui Senin (5/3).

Yudian menjelaskan, sebagai universitas negeri pihaknya tidak ingin ada organisasi yang anti-NKRI, menyebarluaskan radikalisme, dan melakukan gerakan anti-Pancasila di lingkungan kampus. Hal tersebut sangat merugikan kampus UIN Suka sebagai perguruan tinggi Islam.

“Sudah jelas indikasinya, mereka mengelompok sendiri dan tidak mau bergabung dengan mahasiswa lain. Memasang atribut HTI di lingkungan kampus pada hari Minggu yang memang tidak ada aktivitas di kampus itu maksudnya apa? Mungkin mereka menganggap tidak sesat secara akidah tapi ini sudah meresahkan, kami langsung melakukan tindakan,” tegas Yudian di hadapan para awak media.

Di UIN Suka sendiri sudah menerapkan etika berpakaian mahasiswa yang baik dan benar. Setelah sah menjadi mahasiswa baru mereka juga diwajibkan menandatangani surat pernyataan mematuhi kode etik di atas materai.

Surat pernyataan itu yakni sanggup mematuhi peraturan yang berlaku di lingkungan UIN Suka; sanggup mematuhi Kode Etik Mahasiswa UIN Suka, dan sanggup tidak bergabung dengan organisasi apapun yang menganut paham Anti-Pancasila dan Anti-NKRI.

“Hasilnya nanti tergantung mereka, kalau tidak ada keputusan untuk tidak bergabung lagi dengan organisasi tersebut akan kami keluarkan atau pindah kampus,” tegasnya.

Di UIN Suka sendiri sudah didirikan Pusat Studi Pancasila untuk meluruskan hubungan ajaran Islam yang sesuai akidah dengan ilmu Kepancasilaan. Seluruh mahasiswa yang masuk UIN Suka pun diwajibkan bisa baca tulis Alquran, kalau tidak mereka wajib masuk pesantren satu tahun. Mereka tidak hanya diajarkan soal agama namun juga belajar bahasa Arab, bahasa Inggris, dan Kepancasilaan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Suka Waryono Abdul Ghofur mengatakan, pihaknya telah menerima surat edaran dari Kementerian Agama RI untuk menindaklanjuti mahasiswi yang bergabung dengan organisasi radikal dengan segera melakukan pendataan dan pembinaan.

“Sudah kami data dan lakukan pembinaan, ke depannya tetap kami pantau terus perkembangannya,” paparnya.

Sementara itu, Presiden Dewan Mahasiswa UIN Moh Romli mengaku mendukung penuh kebijakan rektorat terkait masalah tersebut. “Soal itu kami telah melakukan pertimbangan dan menemui pihak-pihak yang bersangkutan. Kami mendukung kebijakan tersebut, juga terkait upaya pembinaan. Ke depannya kami akan kawal terus,” katanya. (ita/ila/mg1)