Hakim Perintahkan Pemeriksaan Setempat

JOGJA – Sengketa tanah Pakualamanaat Grond (PAG) antara ahli waris GKR Pembayun, putri raja Surakarta Susuhunan Paku Buwono X dan GKR Emas sebagai penggugat melawan KGPAA Paku Alam X selaku tergugat di Pengadilan Negeri (PN) Jogja memasuki babak baru.

Majelis hakim memerintahkan diadakan pemeriksaan setempat (PS) atas lahan sengketa seluas 1.200 hektare. Tanah tersebut tersebar di Desa Glagah, Palihan, Sindutan, Kebonrejo dan Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo. Rencananya di lokasi itu menjadi calon bandara internasional baru Jogjakarta.

“Kami keluarkan penetapan. Secara teknis pemeriksaan setempat akan dikoordinasikan dengan PN Wates,” ujar Ketua Majelis Hakim Hapsoro SH usai membacakan penetapan pada akhir pekan lalu.

Pemeriksaan setempat (PS) diajukan Suwarsi dkk sebagai ahli waris GKR Pembayun, selaku penggugat mengklaim punya bukti-bukti sebagai pemilik yang sah.

“Bukti kami berupa eigendom atau sertifikat hak milik (SHM),” ujar Prihananto SH selaku penasihat hukum Suwarsi dkk kemarin (4/3).

Eigendom dengan nomor 674 dan verponding nomor 154 atas nama GRAj Moersoedarinah, nama kecil GKR Emas sebelum menjadi permaisuri Paku Buwono X. Moersoedarinah merupakan putri raja Jogja Sultan Hamengku Buwono VII dari permaisuri GKR Kencono.

Eigendom berlambang Kerajaan Belanda diterbitkan kantor Notaris Hendrik Radien di Jogjakarta pada 19 Mei 1916. Sertifikat sebanyak enam lembar itu dilengkapi peta lokasi dan tanda tangan Hendrik Redien.

Dalam sidang itu, hakim beberapa kali memberikan kesempatan kepada para pihak mengajukan bukti-bukti surat. Meski menyediakan kesempatan selama berbulan-bulan, hingga sidang pada Kamis (1/3), pihak Pakualaman belum mengajukan satupun bukti kepemilikan atas tanah PAG di Kulonprogo tersebut.

Dalam beberapa kali sidang, Pakualaman yang diwakili kuasa hukumnya RM Setyohardjo SH dan Herkus Wijayadi SH memasalahkan bukti-bukti milik penggugat.

Herkus meragukan keaslian eigendom atas nama GRAj Moersoedarinah tersebut. Ini tercantum di bukti surat T-42 berupa fotokopi print out download bukti tabel kepemilikan eigendom verponding. Bukti itu sebagai pembanding. Eigendom verponding hanya bisa dimiliki oleh warga negara asing. Dalam tabel misalnya Joelia Cornelia. Sedangkan eigendom verponding pribumi hanya dapat hak sewa.

Kepemilikan eigendom verponding, terang Herkus, harus dilengkapi bukti surat hak dan surat ukur lengkap dengan nomor dan tanggalnya. Sedangkan penggugat sama sekali tidak menyingung dan menyebutkan bukti surat hak dan surat ukur.

“Atas dasar itu, maka legal standing (kedudukan hukum) penggugat tidak lengkap, tidak cukup bukti, diragukan kebenaran dan keabsahannya,” tuding Herkus

Dia juga meragukan Suwarsi dkk merupakan keturunan GKR Pembayun. Alasannya, silsilah Pembayun versi penggugat berbeda dengan versi tergugat.

Versi Pakualaman, Pembayun menikah dengan RM Sis Tjakraningrat dari Sumenep, Madura. Putri Paku Buwono X itu meninggal pada 1987. Jasadnya dimakamkan di kompleks makam raja-raja Mataram Surakarta di Imogiri, Bantul.

Sedangkan versi penggugat, Pembayun yang punya nama kecil Waluyo atau Sekar Kedhaton menikah dengan RM Wugu Harjo Sutirto dari Kadipaten Madura. Terkait bukti sebagai ahli waris, Suwarsi dkk mengajukan bukti surat keturunan (nazab) nomor 127/D/III dari Raad Igama Surakarta atau Pengadilan Agama Surakarta 12 September 1943.

Nazab itu menerangkan Pembayun, putri Paku Buwono X atau Malikoel Koesno dengan GKR Emas menikah dengan Wugu dan melahirkan Suwarsi. “Nazab ini telah dilegalisasi oleh Pengadilan Agama Surakarta,” jelas Prihananto.

Herkus tetap meragukan sosok Pembayun versi penggugat. Dia juga mengajukan permohonan PS kepada hakim. Dia minta makam Pembayun di Imogiri diperiksa. Demikian pula Pembayun versi tergugat yang meniggal 2011. Makamnya di Desa Gawanan, Colomadu, Karanganyar, harus juga diperiksa.

Permohonan PS oleh Pakualaman itu juga dikabulkan majelis hakim. Terkait teknisnya, diserahkan kepada PN Bantul dan PN Karanganyar. Selanjutnya sidang ditunda hingga Kamis (15/3) mendatang.

Menyikapi keraguan tergugat terhadap eigendom milik kliennya, Prihananto dalam sebuah kesempatan sempat mengajukan dua container box (kotak penyimpanan) berisi ratusan eigendom atas nama Malikoel Koesno yang tersebar di sejumlah lokasi.

“Ada 351 eigendom yang semuanya asli,” tegas Prihananto saat menunjukkan ke depan hakim. (kus/ila/ong)