UPACARA bendera di Plaza Monumen SO 1 Maret 1949 kemarin menjadi salah satu momen penting bagi masyarakat Jogjakarta. Peringatan 69 tahun Serangan Oemoem 1 Maret 1949 dipimpin Direktur Bela Negara Direktorat Jendral Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Laksamana Pertama TNI Muhammad Faisal.

Dari peringatan itu Faisal berharap, generasi muda bisa meneladani para pahlawan untuk menggugah semangat nasionalisme. Faisal melihat, saat ini muncul gejala generasi muda meninggalkan budaya dan semangat perjuangan para pahlawan. “Nasionalisme tidak boleh terkikis oleh kemajuan zaman,” tegasnya usai upacara bendera.

Di mata Faisal, peristiwa 1 Maret 1949 menjadi bukti bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan. Serangan yang dipimpin Letkol Soeharto sejak pukul 06.00 menjadi tanda kuatnya persatuan rakyat dan TNI untuk melawan penjajah.

“Perebutan kota dalam tempo enam jam membuktikan pada dunia bahwa kita memiliki kepala yang tegak,” ujar Faisal.

Adapun upacara peringatan SO 1 Maret 1949 diikuti puluhan mahasiswa, ormas, perwakilan institusi pemerintahan, dan tokoh masyarakat. Peserta upacara mengenakan janur kuning, sebagai simbol perjuangan pada saat peristiwa tersebut berlangsung.

Ketua Paguyuban Wehkris III Jogja Soejono berharap persitiwa SO 1 Maret bisa diperingati secara nasional. Menurutnya, Jogja menjadi bagian penting dari NKRI dalam perjuangan mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan.

Soejono mengaku, usaha menjadikan 1 Maret sebagai hari nasional dilakukan sejak empat tahun silam. Namun sampai sekarang belum juga mendapat lampu hijau dari pemerintah pusat.

Dengan diperingati secara nasional, kata Soejono, masyarakat diharapkan bisa mendalami nilai-nilai perjuangan masyarakat Jogjakarta ketika itu. Agar semangat nasionalisme masyarakat Indonesia bisa terjaga di seluruh pelosok Tanah Air. (bhn/yog)