GUNUNGKIDUL – Menyongsong Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1940 ribuan umat Hindu melaksanakan upacara Melasti di Pantai Ngobaran, Desa Kanigoro, Saptosari, Gunungkidul Kamis (1/3).

Ada pesan spiritual yang disampaikan dalam kegiatan keagamaan ini. Yakni, menjaga persatuan dan kekompakan antarumat beragama.

“Upacara Melasti bertujuan mensucikan diri sebelum melaksanakan Nyepi,” jelas Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Gunungkidul Purwanto.

Perayaan Melasti kali ini juga diwarnai arak-arakan gunungan yang berisi uba rampe dan replika pura yang dinamai Pratima. Umat Hindu berjalan dari halaman parkir Pantai Ngobaran. Menuju tempat upacara yang berada di tepi pantai, diiringi mantra dan kidung suci. Seorang Wasi memimpin rombongan pembawa gunungan dan Pratima.

“Melalui upacara Melasti umat Hindu bisa menghadap Hyang Baruno, serta melabuh segala kekotoran alam dan menghadap sari Segara Wukir yang ada di Pantai Ngobaran,” ucapnya.

Pantai Ngobaran dipilih sebagai lokasi Melasti karena dinilai memiliki atmosfer spiritual dan sejarah yang kuat. Merupakan petilasan Raja Majapahit Prabu Brawijaya V bertapa brata. Di pantai ini pula Brawijaya V memutuskan menjadi pertapa. “Pantai Ngobaran merupakan pantai kebinekaan. Ada berbagai tempat ibadah di sini,” ucapnya.

Wakil Bupati Gunungkidul Immawan Wahyudi mengamini pernyataan Purwanto. Perayaan Melasti diyakini bisa mempererat tali persaudaraan antarumat beragama. Bagi Imawan, istilah guyub rukun mengandung arti yang lebih luas dibandingkan gotong royong. (gun/yog/mg1)