SLEMAN – Sejumlah perupa Jogjakarta menginsiasi berdirinya Asosiasi Perupa Republik Indonesia (Aperi). Bertempat di Omah Petruk, Karangkletak, Hargobinangun, Pakem deklrasai diikuti oleh puluhan perupa.

Berdirinya asosiasi ini guna mengoptimalkan program bantuan dari pemerintah. Ketua Aperi Timbul Raharjo mengakui, jatah dana bagi perupa belum optimal. Salah satu penyebabnya belum adanya wadah yang terkoneksi dengan pemangku kebijakan. Lahirnya asosiasi ini berawal dari pameran skala nasional di Ambon pada Oktober 2017 silam.

“Seni adalah bagian dari aset bangsa yang wajib dijaga. Seiring perjalanan waktu, seni merupakan penanda dinamika suatu wilayah. Sehingga memang perlu dimanajemen dengan baik dan optimal,” jelasnya Kamis (1/3).

Timbul menampik lahirnya Aperi hanya untuk mendompleng kucuran dana. Menurutnya, dana bantuan sejatinya telah teralokasi. Hanya, selama ini belum dimanfaatkan secara baik dan merata. Terlebih keberadaan asosiasi perupa belum optimal.

Dalam pertemuan di Ambon, lanjutnya, terjadi diskusi dengan pemangku kebijakan. Berdirinya Aperi tidak hanya berlangsung di Jogjakarta. Setidaknya dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh 32 perwakilan perupa dari seluruh Indonesia.

“Pemerintah agak kebingungan dalam menyalurkan dana yang ada. Sifatnya terbuka dan bisa mengolah asalkan termanajemen dengan baik. Hadirnya Aperi diharapkan menjadi jembatan antara perupa dengan pemerintah,” ujarnya.

Perupa asal Kasongan, Bantul ini menjamin tidak ada permainan politik. Aperi hadir dengan asas memanfaatkan organisasi. Artinya perupa dari golongan manapun bisa bergabung. Tujuan utama adalah memajukan produk seni khususnya seni rupa di Indonesia.

“Bukan politik organisasi tapi memanfaatkan organisasi. Jadi tidak hanya berkarya di studio tapi mulai unjuk karya di luar,” harapnya.

Budayawan Romo Sindhunata berharap Aperi tidak mengotak-ngotakkan perupa. Hadirnya asosiasi ini dapat menggandeng perupa untuk maju bersama. Sesuai sifatnya, seni adalah kebebasan yang melampaui sekat-sekat.

“Mampu menjembatani perupa itu sangatlah penting untuk keberlangsungan seni rupa itu sendiri. Di satu sisi memang tidak semua perupa bisa berperan sebagai birokrat, sehingga hadirnya Aperi sangat membantu,” ujarnya. (dwi/ila/mg1)