Kantor Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIJ yang berada di Ndalem Jayadipuran, Jalan Brigjen Katamso, Mergangsan, Kota Jogja tampak sunyi. Di bangunan berbentuk pendapa khas Jawa itu tampak adanya aktivitas.

Kesibukan baru tampak di kompleks bangunan yang berada di belakang pendapa. Saat Radar Jogja mendatangi tempat tersebut, beberapa peneliti sejarah sedang mempresentasi rencana penelitian yang akan dikerjakan. “Tiga hari ini kami full. Membahas proposal penelitian,” ujar Sri, yang kini menjabat peneliti utama.

Garis muka Sri menunjukkan sebuah kelelahan. Berbagai kegiatan diskusi proposal penelitian diakuinya cukup menguras tenaga. Proposal itu sebagai langkah awal sebuah penelitian. Misalnya untuk meneliti

peninggalan sejarah perjuangan atau persoalan sosial lain.

Sri sudah 30 tahun mengabdi di BPNB DIJ. Waktu 10 tahun diabdikannya untuk melakukan penelitian di berbagai bidang.

“Kalau saya fokusnya kajian revolusi perjuangan dan seni pertunjukan,” ujar perempuan yang tahun depan memasuki masa pensiun.

Sebagai peneliti sejarah, Sri mengaku, memiliki gengsi tersendiri. Meskipun kebanyakan orang menilai masih kalah pamor dibandingkan dengan profesi seperti lawyer maupun dokter.

Namun, di balik itu, profesi seorang peneliti memiliki jasa besar dalam penyusunan arsip sejarah suatu bangsa. Sebab, merekalah yang mencatatkan kembali kejadian di masa lalu yang belum tertuliskan. Atau belum tercatat secara lengkap.

Seperti sejarah perjalanan Ibu Ruswo. Menurutnya, arsip sejarah yang menceritakan tentang Ibu Ruswo masih sangat minim. Nah, dengan penelitian yang dilakukan Sri, kisah sejarah perjuangan Ibu Ruswo pun akhirnya bisa terungkap lebih gamblang. Sosok yang disebut-sebut memiliki peran sangat besar dalam Serangan Oemoem 1 Maret 1949. Ketika itu Ibu Ruswo menyulap rumahnya yang terletak di Jalan Yudonegaran menjadi dapur umum. Di tempat inilah Ibu Ruswo mengajak kaum Hawa di kampungnya untuk memasak dan menyediakan makanan bagi para pejuang kemerdekaan.

“Siapa yang tahu jika Ibu Ruswo ternyata mendapat julukan Ibu Prajurit. Padahal beliau hanya orang biasa,” ungkap alumnus Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (dulu Fakultas Sastra, Red) Universitas Gadjah Mada.

Maka tak heran jika sosok yang terlahir dengan nama Kusnah (Ruswo adalah nama suaminya, Red) itu mendapat predikat Ibu Prajurit. Bahkan, Ruswo diabadikan sebagai nama jalan, menggantikan Jalan Yudonegaran.

Meski kerap dianggap kurang moncer, ucap Sri, minat masyarakat menjadi peneliti sejarah cukup besar. Dia pun tidak khawatir Indonesia kehilangan peneliti. “Yang sulit itu menjadi peneliti utama. Karena aturannya ketat dan harus disesuaikan dengan gelar (pendidikan, Red),” ungkapnya.

Sri sendiri mengaku sangat beruntung. Meski hanya memegang ijazah S1, dia bisa meraih tingkatan sebagai peneliti utama. (yog/mg1)