JOGJA – UGM menjadi tuan rumah konferensi internasional pariwisata bertajukInternational Conference of Critical Tourism Studies Asia Pasific,di University Club (UC), 3-6 Maret mendatang. Acara yang diselenggarakan asosiasi pemikir pariwisata dunia (Critical Tourism Studies/CTS) ini akan menghadirkan 161 pembicara dari 23 negara.

“Kepariwisataan dunia kini mengalami pergeseran paradigma. Jika awalnya pusat dari pariwisata berada di Eropa, kini beralih ke Asia Pasifik,” ujar Prof Dr Wiendu Nuryanti, Guru Besar di Departemen Arsitektur dan Perencanaan Program Doktoral Tenik Arsitektur UGM kepada wartawan (23/2).

CTS menganggap, salah satu negara yang dipandang memiliki percepatan dan dinamika yang tinggi terhadap perubahan pariwisata adalah Indonesia. Produk yang beragam ditambah dengan kondisi sosial budaya membuat Indonesia memiliki keunikan tersendiri.

“Bagi mereka Indonesia mewarisi banyak sekali peninggalan budaya yang mana budaya-budaya dapat dijadikan bahan untuk meningkatkan kunjungan wisata,” jelasnya. Adapun pokok bahasan yang disampaikan terdiri atas pemikiran dan gagasan stategis kritis terkait kepariwisataan.

Berdasarkan permintaan, ada 24 tema kepariwisataan yang akan diangkat. Meliputiculture tourism, ethic and sustainability in tourism, transport and mobilities in toursm, tourism and politics, coastal tourism, spiritual tourism, torism and the community, imagining tourism landscapes, tourism and social transformation, tourism development planning, dark and disaster tourism.

Tema-tema ini nantinya akan dibawakan oleh para profesional seperti Dr Chris Gibson dari University of Wollongong Australia, Dr Kathleen M. Adams dari Universitas of Loyola Chicago USA, Dr Ploysri Porananond dari Chiang Mai University Thailand, dan Dr Regina Scheyvens dari Massay University New Zealand. (met/laz/mg1)