SLEMAN – Universitas Islam Indonesia (UII) membenarkan Tara Asih Wijayani (TAW) pernah mengajar di kampus UII. Statusnya bukan dosen tetap. Terakhir mengajar di UII semester lalu untuk mata kuliah Bahasa Inggris.

Humas UII Jogjakarta Karina Utami Dewi mengungkapkan TAW tercatat mengajar sejak 2005 namun tidak intensif. Selama proses mengajar tidak memiliki catatan buruk. Profesionalitas kerja tidak menunjukkan ada indikasi berkaitan dengan ujaran kebencian.

“Sesuai tugasnya sebagai tenaga pengajar belum ada laporan menyimpang,” kata Karina di Kampus UII Jalan Kaliurang KM 12 Rabu (28/2).

Statusnya sebagai dosen tidak tetap menyebabkan interaksi kelembagaan tidak wajib. TAW hanya datang jika ada mata kuliah yang diampu. Tidak setiap semester TAW mengampu mata kuliah tersebut.

UII tidak akan memberikan pendampingan hukum kepada TAW. UII mendukung penyidikan kepolisian. Secara internal, UII juga akan membuat tim untuk menyelidiki jejak rekam TAW.

“Tergantung program studi yang membutuhkan, tidak setiap semester punya jadwal mengajar. Kadang ada vakum mengajar juga,” ujarnya.

Dukuh (Kepala Dusun) Krajan, Tirtomartani Kalasan Arifin Nur Hamzah baru mengetahui salah satu warganya ditangkap polisi. Berdasarkan data kependudukan, Arifin mengenal TAW sebagai dosen. Merupakan warga Jakarta yang telah pindah ke dusunnya 25 tahun lalu.

TAW berstatus single parent dengan empat anak. Keempat anaknya sudah dewasa. Anak termuda berstatus pelajar SMK di Jogjakarta. Sementara ibu TAW tercatat sebagai warga asli Krajan.

“Rumah yang ditempati adalah milik orangtua beliau (TAW). Berdasarkan laporan warga memang agak kurang bersosialisasi,” katanya.

Tetangga TAW Surono juga tidak tahu penangkapan pelaku penyebar hoaks tersebut. TAW dikenal sebagai individu yang sangat tertutup. Pernah suatu ketika ada lelayu dekat rumah, tapi TAW tidak melayat.

“Kurang komunikasi juga, malah tidak tahu kalau ada penangkapan,” ujarnya.

Kasus TAW bermula dari penyebaran kabar bohong. Postingan terdeteksi di akun Facebook atas nama Tara Dev Sams. Setelah ditelusuri Polda Jawa Barat, akun tersebut milik TAW.

Inti dari konten tersebut, penggiringan opini tentang aksi perampokan. Sosok korban perampokan Bahron adalah warga biasa namun ditulis sebagai muazin Desa Sindang Cikijing Majalengka. Kasus perampokan digiring menjadi upaya pembunuhan tokoh agama. (dwi/iwa/mg1)