Pada pertengahan Februari 1949, Sri Sultan Hamengku Buwono IX khawatir dengan sikap gerilyawan dan masyarakat yang mulai mengendur dalam melawan penjajah Belanda.Waktu itu, HB IX menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Apalagi, saat itu, para pemimpin Indonesia sedang diasingkan oleh penjajah Belanda.

Kebetulan saat itu sedang dihelat pertemuan Komite Tiga Negara yakni Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Ada pula wartawan internasional yang menginap di Hotel Inna Garuda Yogyakarta.

HB IX berinisiatif melakukan penyerangan pada kamp pasukan penjajah Belanda di Hotel Tugu, yang terletak ada di timur Stasiun Tugu Yogyakarta.

“Itu juga yang perlu diketahui, yang disasar saat itu utamanya Hotel Tugu, bukan Benteng Vredeburg,” jelas KRT Jatiningrat (Romo Tirun), kerabat Keraton Yogyakarta.

Ide HB IX melakukan serangan tersebut untuk menunjukkan eksistensi Republik Indonesia. Saat itu, di forum-forum internasional penjajah Belanda mengatakan Indonesia sudah tidak ada. “Harapanya kan mereka tahu ternyata Republik ini masih ada, yang dikatakan Belanda pasukan tidak terkoordinasi, liar ternyata bisa terkoordinasi dengan baik dan menyerang,” jelas .

Untuk itu, HB IX langsung mengirim surat ke Panglima Jenderal Soedirman yang sedang bergerilya di Jawa Timur. Melalui kurir Cokropranolo, akhirnya Soedirman membalas surat HB IX dan mempersilakan HB IX untuk melakukan serangan dengan segala risikonya.

“Pak Dirman juga meminta HB IX untuk berkoordinasi dengan Letkol Suharto, anak buah Pak Dirman yang ada di Kota Yogya,” jelasnya.

Skitar 13 atau 14 Februari 1949, Letkol Suharto diundang ke Keraton Yogyakarta oleh HB IX untuk membicarakan rencana serangan. Soeharto dijemput oleh ayah Romo Tirun, yakni GBPH Prabuningrat.

Saat akan masuk ke Keraton Yogyakarta, Letkol Soeharto diminta melalui Pawon Prabeyo di dekat Magangan dan memakai baju peranakan. Bersama GBPH Prabuningrat, Letkol Soeharto bertemu HB IX di Ndalem Prabuningratan.

“Pakai peranakan untuk antisipasi kalau ada mata-mata di abdi dalem,” ungkapnya.

Dini hari pada 1 Maret 1949, para tentara dan gerilyawan dari Indonesia bergerak menuju Kota Yogyakarta. Bunyi gaog atau sirine di Pasar Beringharjo menjadi penanda dimulainya serangan. Sirine tersebut berbunyi tiap pukul 06.00 sebagai tanda berakhirnya jam malam yang diterapkan penjajah Belanda.

Tentara dan gerilyawan Indonesia yang dipimpin Letkol Soeharto segera menyerang dari berbagai arah. Pasukan dari arah selatan dikomandani Mayor Sardjono. Pasukan yang menyerang dari arah barat dipimpin Letkol Soehoed. Pasukan dari arah utara dipimpin Mayor Soekasno.

Pertempuran pecah di berbagai titik di Kota Yogyakarta. Pasukan Indonesia berhasil menaklukkan pasukan penjajah Belanda.

Gilang gemilang. Serangan Umum 1 Maret 1949 membuktikan Kota Yogyakarta berhasil dikuasai kembali oleh Indonesia.

Selama sekitar enam jam, pasukan Indonesia mengontrol penuh Kota Yogyakarta. Pasukan Indonesia kemudian memutuskan mundur dari Kota Yogyakarta pukul 12.00 atas perintah Letkol Soeharto. Pasukan Indonesia kembali ke markas masing-masing.

Kabar keberhasilan pasukan Indonesia menundukkan penjajah Belanda dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 tersebut segera menyebar ke dunia. Dari Yogyakarta, keberhasilan ini dikabarkan melalui saluran radio di Bukit Tinggi. Kabar lantas diteruskan ke India hingga Amerika Serikat di mana Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sedang menggelar sidang.

Atas informasi itu, PBB berpendapat tentara Indonesia masih kuat. Propaganda yang dilontarkan Belanda terbukti keliru. Dukungan terhadap Indonesia di dunia pun kian kuat. (pra/ila/amd/mg1)