KULONPROGO – Kapolda DIJ Brigjen Pol Ahmad Dofiri mengimbau masyarakat selalu menjaga kerukunan antarumat beragama. Tidak mudah terprovokasi dengan kabar-kabar yang beredar, khususnya melalui media sosial (medsos).

“Banyak hoax (berita bohong) di medsos. Kita harus jeli dan waspada menerima informasi. Tidak semua berita itu benar,” kata Dofiri usai peletakan batu pertama pembangunan Masjid Abdul Jalil di Pedukuhan Nabin, Desa Sidomulyo, Kecamatan Pengasih, Selasa petang (27/2).

Jeli atau waspada berbeda dengan trauma atau takut berlebihan. Trauma justru tidak baik dan tidak produktif, orang jadi takut mau kemana-mana. Namun hal itu tidak akan terjadi di DIJ.

Pasca-peristiwa penyerangan Gereja Bedog Gamping Sleman, Dofiri memastikan kerukunan beragama tetap berjalan baik. Peristiwa Bedog harus menjadi hikmah bagi semua.

“Hubungan antarumat harus semakin rekat. Tidak boleh terprovokasi dengan isu-isu yang bekembang. Kita harus mengedepankan sikap toleransi,” kata Dofiri.

Pembangunan masjid merupakan cara mendekatkan polisi dengan masyarakat. Sejauh ini polisi keras menangkap pencuri. Ikut membangun masjid menjadi sisi polisi yang lain.

“Ikut membangun masjid menunjukkan wajah polisi yang bukan semata-mata sebagai penegak hukum semata. Tetapi juga ikut dalam kegiatan-kegiatan kemaslahatan umat,” kata Dofiri.

Kapolres Kulonprogo AKBP Irfan Rifai SH mengatakan polisi dituntut bisa mengayomi masyarakat. Pembangunan masjid kali ini menjadi ladang pembuktian.

Masjid ini dibangun di atas tanah wakaf keluarga Darmo Wiyono, anak bungsu Abdul Jalil almarhum. Pembangunan masjid berawal dari keinginan 107 Kepala Keluarga (KK) dari empat RT dan dua RW di Pedukuhan Nabin membangun musala.

“Pak Kapolda sebut tadi, Insyaallah tiga bulan lagi atau saat puasa Ramadan nanti sudah bisa digunakan,” kata Irfan. (tom/iwa/mg1)