Aksi dimulai dengan longmarch dari sekolahan di Jurangombo Selatan, Magelang Selatan menuju Alun-alun Kota Magelang. Para peserta memakai pakaian beraksesori sayuran. “Aksi ini bentuk sosialisasi pentingnya gizi. Masyarakat diajak untuk senantiasa memerhatikan kebutuhan gizi bagi tubuh,” kata Ketua Panitia Long March HGN, Bella Niken Binasti.

Dijelaskan, aksi teatrikal yang ditampilkan merupakan representasi kondisi masyarakat saat ini yang ternyata masih terjadi kasus kekurangan gizi dan obesitas. Beberapa pelajar yang memeragakan warga kurang gizi berebut makanan yang diberikan orang lain.”Dari aksi ini, kami harap masyarakat bisa memahami dua kasus ini yang ternyata terjadi di Indonesia,” jelasnya.

Akhmada Khasby salah seorang guru SMK Citra Medika yang berorasi mengutarakan, sebuah ironi kasus gizi buruk masih terjadi di Indonesia yang merupakan negara kaya sumber daya alam. Bahkan, hampir di setiap provinsi terjadi kasus gizi buruk. “Yang paling menyita perhatian, tentu kita tahu adalah kasus gizi buruk di Asmat. Ini menjadi perhatian nasional dan kita di Magelang pun tersentuh. Jangan sampai kasus itu terjadi di Magelang,” harapnya.

Menurutnya, kemiskinan menjadi salah satu faktor terjadinya gizi buruk. Warga miskin sulit mendapatkan asupan makanan yang bergizi, sehingga mengonsumsi makanan yang kurang bergizi. Tapi, sebaliknya juga terjadi, orang kaya tapi tidak memahami makanan bergizi, sehingga bisa sakit.

Dia juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai makanan yang mengandung zat berbahaya bagi tubuh. Seperti formalin, borax, dan zat-zat lainnya yang berbahaya. Dalam aksi tersebut, peserta juga membagikan aneka jenis sayuran dan susu segar. (dem/din/mg1)